Salam Tribun Timur
Minoritas Aktif Kalahkan Mayoritas Diam
Yang melanggar hanya sedikit. Hanya puluhan orang. Yang diam sangat banyak ribuan, bahkan lebih tujuh ribu.
TRIBUN-TIMUR.COM - Sepakbola sempat kehilangan maknanya di Stadion BJ Habibie, Parepare, Minggu malam, 17 Mei 2026.
Laga kandang terakhir PSM Makassar musim ini ternoda.
Bukan oleh ulah wasit dan pemain. Tapi dari oknum penonton.
Kita perlu jernih membaca peristiwa ini.
Tidak adil menyebut “suporter rusuh”.
Mayoritas tetap duduk. Tetap menonton. Tetap memahami situasi.
Yang melanggar hanya sedikit. Hanya puluhan orang. Yang diam sangat banyak ribuan, bahkan lebih tujuh ribu.
Masalahnya, yang sedikit itu terlihat. Yang banyak itu menghilang.
Dalam perspektif Sosiologi, ini bukan soal emosi kolektif.
Ini soal minoritas aktif yang mendominasi ruang simbolik, sementara mayoritas memilih diam.
Apa yang dibentangkan bukan sekadar spanduk. Ia adalah pesan. Ia adalah tekanan. Ia adalah panggung.
Dan panggung itu dikuasai oleh mereka yang paling berani melanggar. Di sinilah ironi itu bermula.
Semua tahu itu salah. Semua paham itu berbahaya. Namun tak ada yang mencegah. Tak ada yang menghentikan.
Dalam bahasa Émile Durkheim, norma tidak hilang. Tapi gagal bekerja karena tidak ditegakkan.
Yang terjadi bukan kekacauan massal. Yang terjadi adalah diam yang kolektif.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/SUPORTER-RUSUH-Stadion-BJ-Habibie-Kota-Parepare-Sulawesi-Selatan-k.jpg)