Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Katto Bokko: Meneropong Masa Depan Petani Muda Indonesia

Petani itu identik dengan tubuh kurus, usia tua, hidup pas-pasan, dan bekerja dengan cara-cara yang jauh dari teknologi.

TRIBUN TIMUR/ist
OPINI - Tutik Sutiawati Pendidik dan Penggiat Literasi Sejarah “Kassikebo” 

Dalam kondisi seperti ini, sulit berharap pertanian menjadi profesi yang menarik.

Padahal jika dikelola dengan baik, sektor ini punya potensi besar.

Teknologi pertanian modern dari traktor canggih hingga drone penyemprot, sudah membuka peluang baru.

Anak muda sebenarnya punya kemampuan untuk mengembangkan ini, menjadi agropreneur yang inovatif.

Sebaggai anak petani, saya percaya bahwa perubahan harus dimulai dari hal yang mendasar, yaitu akses terhadap lahan dan keadilan dalam sistem pertanian.

Bayangkan jika mereka memiliki akses terhadap teknologi, pasar yang adil dan perlindungan dari risiko gagal panen.

Dengan lahan yang memadai, pertanian tidak lagi sekadar bertahan hidup, tapi bisa menjadi usaha yang masuk akal secara ekonomi.

Jika itu terjadi, saya yakin anak muda tidak perlu dipaksa untuk kembali ke sawah.

Mereka akan datang dengan sendirinya. Ke depan tantangan kita tidak kecil.

Diperkirakan pada tahun 2035, produk asing akan semakin membanjiri pasar kita.

Dalam kondisi seperti itu, hanya beberapa sektor yang benar-benar bisa bertahan, yaitu pertanian, perkebunan, perikanan, dan peternakan.

Sektor-sektor yang sepenuhnya tidak bisa digantikan oleh teknologi atau kecerdasan buatan. 

Artinya masa depan kita justru sangat bergantung pada sektor yang hari ini kita abaikan.

Aktivitas Katto Bokko di Marusu telah memberi kita satu pesan penting, bahwa tradisi tidak pernah sekadar tentang menjaga yang lama, tapi juga tentang menyiapkan yang akan datang.

Saya adalah anak petani. Saya tahu betapa berat jalan yang telah dilalui orang tua saya.

Tapi di tempat itu, di tengah Katto Bokko, saya juga melihat sesuatu yang jarang saya rasakan, harapan yang pelan-pelan tumbuh.

Sebuah harapan baru bahwa suatu hari nanti, menjadi petani tidak lagi dipandang sebagai keterpaksaan. Melainkan sebagai pilihan yang membanggakan. (*)

Sumber: Tribun Timur
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

Inspirasi Kartini

 

Inspirasi Kartini

 
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved