Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Katto Bokko: Meneropong Masa Depan Petani Muda Indonesia

Petani itu identik dengan tubuh kurus, usia tua, hidup pas-pasan, dan bekerja dengan cara-cara yang jauh dari teknologi.

TRIBUN TIMUR/ist
OPINI - Tutik Sutiawati Pendidik dan Penggiat Literasi Sejarah “Kassikebo” 

Selama ini citra petani di kepala banyak orang termasuk generasi muda, tidak benar-benar berubah.

Petani itu identik dengan tubuh kurus, usia tua, hidup pas-pasan, dan bekerja dengan cara-cara yang jauh dari teknologi.

Bahkan jujur saja, banyak orang tua petani sendiri yang tidak ingin anaknya mengikuti jejak mereka.

Saya salah satu contohnya. Sebagai anak sulung yang cukup sering ikut ke sawah.

Tahu rasanya berdiri di lumpur, menunggu musim yang tidak pasti, berharap harga gabah tidak jatuh saat panen.

Saya juga tahu bagaiamana orang tua saya harus menghitung uang dengan sangat hati-hati, antara membeli pupuk atau membayar kebutuhan sekolah anak.

Ironisnnya, di bangku kuliah, saya banyak bertemu banyak sarjana pertanian yang justru tidak tahu cara bertani secara nyata.

Sementara petani yang sebenarnya, yang setiap hari bergelut dengan tanah, tidak pernah mendapat pengakuan yang layak.

Beberapa tahun terakhir, isu tentang krisis petani muda semakin sering terdengar.

Banyak yang bilang anak muda tidak tertarik lagi pada pertanian.

Tapi menurut saya, persoalannya bukan sesederhana itu.

Ini bukan soal minat. Ini soal masa depan.

Bagaimana mungkin anak muda mau menjadi petani jika profesi itu tidak menjamin kehidupan yang layak?

Kita terlalu sering mendengar cerita yang sama: harga pupuk mahal, benih sulit didapat, cuaca tidak menentu, dan saat panen tiba, harga gabah justru jatuh.

Belum lagi alih fungsi lahan terus terjadi, membuat ruang hidup petani semakin sempit.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved