Opini Andi Irhamsyah Hamid
Jusuf Kalla Putera Bangsa: Tinjauan Fisika Inti Nuklir
Dalam ilmu fisika dan teknik, dikenal konsep rasio antara sinyal dan derau. Ilmu fisika memberi kita cara memahami mekanisme ..
TRIBUN-TIMUR.COM - Dalam dinamika kehidupan berbangsa, posisi tokoh publik selalu berada dalam ruang yang paradoksal. Di satu sisi, ia dihormati atas jasa dan kontribusinya; di sisi lain, ia tidak pernah lepas dari kritik.
Namun, persoalan menjadi berbeda ketika kritik yang seharusnya rasional berubah menjadi penghakiman yang prematur, terutama ketika dibangun di atas informasi yang tidak utuh. Fenomena ini semakin nyata di era digital, di mana kecepatan penyebaran informasi sering kali melampaui kedalaman pemahaman.
Menariknya, fenomena ini dapat dipahami secara lebih tajam melalui pendekatan fisika, khususnya fisika inti.
Dalam ilmu tersebut, dikenal konsep reaksi berantai, yaitu proses di mana satu peristiwa kecil dapat memicu serangkaian peristiwa lain yang berkembang secara berlipat ganda.
Dalam konteks sosial, satu potongan informasi misalnya kutipan pendek atau video yang tidak utuh dapat memicu respons berantai berupa komentar, reaksi emosional, dan penyebaran ulang.
Jika setiap individu yang menerima informasi tersebut kembali menyebarkannya ke lebih dari satu orang, maka pertumbuhan opini terjadi secara eksponensial. Pada titik tertentu, sistem ini menjadi tidak terkendali, menyerupai kondisi “superkritis” dalam reaksi inti.
Fenomena ini semakin kompleks ketika dikaitkan dengan konsep fisi, yaitu pembelahan inti atom yang menghasilkan energi besar.
Dalam analogi sosial, seorang tokoh besar dapat dipandang sebagai “inti berat” yang stabil karena memiliki rekam jejak panjang dan kepercayaan publik yang tinggi.
Namun, ketika sebuah isu kecil mengenai tokoh tersebut masuk sebagai pemicu, keseimbangan dapat terganggu.
Opini publik kemudian terbelah menjadi dua kubu yang saling berlawanan, dan proses ini melepaskan energi sosial dalam bentuk emosi, perdebatan, bahkan konflik terbuka. Semakin besar figur yang terlibat, semakin besar pula energi sosial yang dilepaskan.
Dalam fisika inti juga dikenal konsep massa kritis, yaitu ambang batas yang menentukan apakah suatu reaksi akan berhenti atau justru berkembang tanpa kendali.
Dalam ruang publik, massa kritis ini dapat dianalogikan sebagai jumlah partisipasi masyarakat dalam menyebarkan sebuah isu.
Selama jumlahnya kecil, isu akan meredup dengan sendirinya. Namun, ketika jumlah tersebut melampaui ambang tertentu, penyebaran menjadi otomatis dan meluas. Pada titik ini, tidak lagi diperlukan dorongan tambahan; sistem telah memiliki momentumnya sendiri.
Masalah menjadi semakin serius ketika kualitas informasi yang beredar menurun. Dalam ilmu fisika dan teknik, dikenal konsep rasio antara sinyal dan derau. Sinyal adalah informasi utama yang ingin disampaikan, sedangkan derau adalah gangguan yang mengaburkan makna.
Dalam konteks sosial, sinyal berupa fakta utuh dan konteks lengkap, sementara derau muncul dalam bentuk potongan informasi, judul provokatif, dan emosi yang berlebihan. Ketika derau lebih dominan, maka persepsi publik tidak lagi mencerminkan realitas, melainkan hasil distorsi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/21042026Irhamsyah.jpg)