Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Risk Premium Channel, Disiplin Fiskal dan Depresiasi Ekstrim Rupiah

Rasio defisit fiskal terhadap GDP juga mendekati batas aman sesuai undang-undang (UU) sebesar 3,0 persen.

Istimewa
OPINI - Muhammad Syarkawi Rauf, Dosen FEB Unhas / Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha RI – KPPU RI 2015 – 2018 

Oleh: Muhammad Syarkawi Rauf
Dosen FEB Unhas / Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha RI – KPPU RI 2015 – 2018

TRIBUN-TIMUR.COM - Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) mencapai titik terendah sepanjang sejarah.

Nilai tukar rupiah melemah hingga Rp.17.156 per dollar AS pada 15 April 2026 (Trading Economics, 2026).

Melampaui rekor terlemah sepanjang sejarah.

Kinerja mata uang rupiah lebih buruk dibandingkan tiga mata uang utama Asean, yaitu ringgit Malaysia, baht Thailand, dan dong Vietnam.

Hingga akhir maret 2026, rupiah melemah 5,5 persen dibandingkan posisi terkuatnya dalam satu tahun terakhir.

Sementara, ringgit Malaysia melemah 4,1 persen, baht Thailand 5,0 persen dan dong Vietnam 2,40 persen.

Nilai tukar rupiah undervalued, di bawah nilai wajar dan tidak sesuai kondisi fundamentalnya.

Fenomena ini sejalan dengan pandangan ekonom International Monetary Fund (IMF), Lorenzo Giorgianni (1997) bahwa depresiasi ekstrim nilai tukar dapat dipengaruhi oleh kondisi fiskal yang buruk melalui kenaikan persepsi risiko terhadap suatu perekonomian yang tercermin pada risk premium yang tinggi.

Risk Premium Channel

Risk premium channel (jalur premi risiko) menjelaskan jalur pengaruh lemahnya disiplin fiskal terhadap nilai tukar melalui peningkatan persepsi risiko terhadap perekonomian suatu negara.

Pengalaman beberapa negara Eropa tahun 1992, nilai tukar lira Italia, franc Belgia dan krona Swedia mengalami depresiasi ekstrim karena premi risikonya sangat tinggi yang disebabkan oleh lemahnya disiplin fiskal.

Hal ini tercermin pada debt to Gross Domestic Product (GDP) ratio yang tinggi, melampaui batas aman 60 persen.

Fenomena yang sama juga terjadi di Brazil tahun 2002, pada saat disiplin fiskal buruk yang tercermin pada debt to GDP ratio tinggi, rasio defisit fiskal terhadap GDP lebih besar 3,0 persen, keseimbangan primer negatif dan credit default swap (CDS) naik membuat nilai tukar real Brazil terdepresiasi ekstrim.

Depresiasi ekstrim real Brazil karena risk premium tinggi. Potensi gagal bayar utang luar negerinya naik.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved