Opini
Indonesia Bagian dari Kebun kami
Sehingga, sekuat apa pun krisis menerpa suatu negeri, jika ketahanan pangan kuat, maka akan mudah menjaga stabilitas.
Oleh: A. Rahman
Ketua PKC Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia PMII Sulawesi Selatan periode 2005-2007
TRIBUN-TIMUR.COM - Konflik global yang melanda dunia ditandai dengan hilangnya titik kompromi, yang kemudian diaktualisasikan dalam bentuk perang antara negara-negara kuat, yang bisa dipastikan sebagai upaya melestarikan hidup sesuai dengan potensi dan sumber daya yang dimilikinya.
Kebangkitan negara-negara yang memiliki sumber daya alam dan manusia berlimpah adalah pesan bahwa masing-masing wilayah berkuasa berdasarkan kapasitas dari potensi yang dimilikinya, bukan dari kekuatan yang sengaja dibangun untuk menguasai wilayah lain dalam bentuk penjajahan.
Dengan berbagai retorika perang, para pemimpin dari negara-negara yang tidak memiliki sumber daya alam yang memadai, yakni sektor pangan dan energi, berusaha membenarkan sikap dan kebijakan perang yang diambilnya sebagai upaya untuk menciptakan iklim stabilitas kawasan.
Padahal, yang terjadi justru upaya untuk meneguhkan kekuatan dalam mengintervensi kebijakan atas sumber daya alam dan energi negara-negara pemilik sah kekayaan yang berlimpah.
Indonesia adalah negara yang belajar banyak tentang struktur penjajahan, sekaligus meneguhkan sikap negara untuk menghapuskan penjajahan di atas dunia sebagaimana yang termaktub dalam Pembukaan UUD 1945.
Sejarah panjang, khususnya pada titik krusial krisis, mengajarkan bangsa Indonesia bahwa ketahanan pangan adalah kekuatan utama dalam menjaga stabilitas.
Sehingga, sekuat apa pun krisis menerpa suatu negeri, jika ketahanan pangan kuat, maka akan mudah menjaga stabilitas.
Pemimpin negeri ini paham betul bahwa menjaga ketahanan pangan tidak sekadar meningkatkan produksi pangan.
Akan tetapi, yang lebih utama adalah mengamankan pasokan pada tahap distribusi, baik ekspor maupun impor, agar terjaga dari cengkeraman kapitalisme.
Lahan pertanian dijadikan sebagai basis utama ketahanan pangan. Petani berada di garda terdepan menjaga kedaulatan pangan, sekaligus pemilik sah urat nadi kelangsungan hidup penghuni negeri.
Di kebun kami tidak ada karier, jabatan, dan pakaian serba mewah. Di sana hanya ada pakaian berbalur lumpur dan tanah.
Keringat mengguyur ke bumi, menyiram Ibu Pertiwi. Tidak ada penghargaan berupa “petani award” atau penghargaan serupa dalam festival yang mewah.
Pada hari kemerdekaan, tidak ada undangan khusus atau sekadar edaran untuk datang ke lapangan upacara.
| Polemik DPT dan 'Pemilih Hantu: Mengapa Masalah Data Kematian Terus Berulang? |
|
|---|
| Dilema PMB: Dinamika Kuota PTN dan Realitas Ekonomi Keluarga |
|
|---|
| Mengukur Eektivitas Kebijakan Work From Home |
|
|---|
| WFH dan Burnout Society |
|
|---|
| Konsekuensi Pemisahan Rezim Pemilu Nasional dan Lokal: Transformasi Kaderisasi Berbasis Kinerja |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2026-03-20-A-Rahman.jpg)