Opini
Katto Bokko: Meneropong Masa Depan Petani Muda Indonesia
Petani itu identik dengan tubuh kurus, usia tua, hidup pas-pasan, dan bekerja dengan cara-cara yang jauh dari teknologi.
Di sisi lain, kita juga sering mendengar anak muda Indonesia bekerja sebagai petani di luar negeri misalnya di Jepang dan Australia.
Mereka mengolah tanah di negeri orang, tapi enggan melakukannya di tanah sendiri.
Mengapa? Jawabannya sederhana.
Di sana, bertani dihargai, dan ada sistem yang membuat kerja keras terasa tidak sia-sia.
Masalah pertanian kita adalah masalah struktural.
Bukan soal malas atau tidaknya generasi muda, tapi soal apakah sistem yang ada memberi mereka peluang untuk hidup layak.
Selama pertanian masih identik dengan ketidakpastian, maka wajar jika anak muda memilih jalan lain.
Padahal kita sering menyebut diri sebagai negara agraris.
Tapi kenyataanya, petani kita masih berada di posisi yang rapuh.
Data menunjukkan bahwa petani muda di indonesia hanya sekitar 21 persen.
Artinya, sebagian besar petani kita sedang menua.
Lalu siapa yang akan menanam makanan kita 10 atau 20 tahun ke depan?
Masalahnya bukan hanya soal jumlah, tapi juga soal kualitas hidup.
Banyak petani gurem yang hanya memiliki lahan kecil, bahkan tidak punya lahan sendiri.
Penghasilan mereka seringkali hanya cukup untuk bertahan hidup.
| Ketika Laki-laki Memilih Diam: Kerentanan Bunuh Diri dalam Perspektif Emile Durkheim |
|
|---|
| Padepokan Saung Taraju Jumantara dan Rapuhnya Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan |
|
|---|
| Kesadaran Kritis: Fondasi yang Lemah dalam Demokrasi Indonesia |
|
|---|
| Makassar Harus Menyelesaikan Sampahnya Sendiri, Dimulai dari Lorong |
|
|---|
| Indonesia Bagian dari Kebun kami |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2026-01-06-Tutik-Sutiawati.jpg)