Klakson Abdul Karim
Kota yang Sempit
Kepadatan itu membuat pandangan kita berjarak pendek, bahkan blur saat hendak menatap sudut-sudut tertentu. Pendapatan pun kian sempit.
Orang-orang kalangan bawah berbondong-bondong bekerja sebagai pengayuhnya.
Bukan hanya laki-laki, saya pernah menemukan pengayuh Ojol seorang perempuan muda bertubuh ceking menarik Ojol.
Ia mampir dipenjual martabak, pinggir jalan sekitar pukul 21.00 wita.
Dibagian depannya, ia menyertakan anak lelakinya yang masih ingusan.
Bocah itu mengantuk, matanya sayup.
Sementara ibunya harus antri dipenjual martabak menunggu pesanannya yang sebenarnya dipesan pelanggannya.
Sungguh sempit ruang nafkah bagi mereka.
Saat saya menunggu motor yang diservis dibengkel pinggir jalan, seorang pengayuh Ojol yang masih muda mampir membawa bekas jirgen oli motor.
Kepada montir bengkel itu, ia meminta oli bekas motor untuk digunakan pada motornya.
Saya terperangah mendengarnya.
Oli bekas yang tak berguna itu dipakai untuk roda dua Ojolnya.
Karena apa? Mungkin untuk penghematan.
Tetapi bagi seorang pensiunan pegawai level bawah yang mengayuh Ojol barangkali bukan untuk penghematan.
Mungkin karena kesempitan dan kekurangan.
Pensiun sebenarnya sinyal tubuh untuk istirahat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Abdul-Karim-Ketua-Dewas-LAPAR-Sulsel-Majelis-Demokrasi-Humaniora-9.jpg)