Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Klakson Abdul Karim

Kisah Keringat

Motivasi mereka hanya satu; tak ingin hidupnya beku laksana cor beton bangunan yang dikerjakannya saban hari.

Ist
KLAKSON - Abdul Karim Ketua Dewas LAPAR Sulsel / Majelis Demokrasi & Humaniora 

Oleh: Abdul Karim
Ketua Dewas LAPAR Sulsel / Anggota Majelis Demokrasi & Humaniora

TRIBUN-TIMUR.COM - Seorang perempuan paruh baya disebuah lorong/gank di kota ini “pensiun dini” dari pekerjaannya sebagai tukang cuci pakaian mengeluhkan nafkahnya.

Sumber nafkahnya tak lagi mengalir seperti sedia kala.

Orang-orang di sebuah kompleks perumahan tempatnya mengais nafkah sebagai tukang cuci, tak lagi mengajaknya mencuci pakaian lantaran ibu rumah tangga dikompleks itu menyodorkan pakaian kotornya untuk dicuci pada jasa laoundry.

Padahal, perempuan paruh baya itu puluhan tahun lamanya melayani jasa cuci pakaian dirumah-rumah warga kompleks disana.

Telapak tangannya masih kentara putih pucat bekas sentuhan cairan sabun cuci selama puluhan tahun.

Bekas senggolan setrika panas ditangannya pun masih ia ingat titik-titiknya sebab saat pakaian yang dicucinya kering, esok hari ia datang menyetrikanya.

Kadang kala ia seperti sosok “Tarmijah” yang dilagukan Iwan Fals dalam sebuah albumnya.

Tarmijah seorang pembantu rumah tangga mencuci pakaian majikan, membersihkan halaman, atau menyiapkan seragam sekolah anak majikan.

Si ibu paruh baya tadi pun, kerap kali membersihkan halaman dan memasak untuk sang majikan di kompleks itu.

Pelanggannya dikompleks itu memang tak cukup sepuluh rumah, namun dengan itu ia menafkahi keluarganya seraya membantu sang suami yang bekerja serabutan mengumpul ogkos hidup disebuah lorong sempit.

Jasa loundry yang merebak, menyempitkan nafkahnya.

Dan barangkali jasa cuci modern ini berkonstribusi untuk negara—setidaknya pajak—dibanding si “Tarmijah” Makassar itu.

Profesi Si ibu paruh baya itu dipastikan tak menyumbang pajak untuk negara.

Namun ia cukup bijak, fenomena bisnis laoundry dimakluminya sebagai upaya kreatif manusia mencari nafkah pula.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

Cinta dan Syukur

 
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved