Klakson Abdul Karim
Kota yang Sempit
Kepadatan itu membuat pandangan kita berjarak pendek, bahkan blur saat hendak menatap sudut-sudut tertentu. Pendapatan pun kian sempit.
Oleh: Abdul Karim
Ketua Dewas LAPAR Sulsel / Anggota Majelis Demokrasi & Humaniora
TRIBUN-TIMUR.COM - Kita mendengkur ditengah kota yang padat.
Padat penduduk, padat kendaraan, padat sampah, padat genangan air dimusim hujan, dan padat tempat belanja modern.
Kepadatan itu membuat pandangan kita berjarak pendek, bahkan blur saat hendak menatap sudut-sudut tertentu.
Pendapatan pun kian sempit.
Sementara harga kebutuhan pokok semakin membengkak seperti adonan roti.
Orang-oramg kecil di kota ini harus mampu melakukan penghematan konsumsi.
Mereka seolah dipaksa berhemat.
Bila perlu, mengolah makanan-makanan alternatif.
Sementara kaum berduit saban hari menyisakan makanan.
Makanan yang disantapnya tak seluruhnya jadi tahi.
Sebab sebagiannya menjadi limbah makanan yang terbuang.
Saat menjadi limbah begitu, orang-orang kecil yang bekerja sebagai tukang sampah repot lagi mengangkutnya ke tempat pembuangan akhir sampah.
Bagi kaum kecil, kehidupannya seakan seluas bak sampah.
Ketika ruang pencarian nafkah semakin sempit dikota besar ini, datanglah bisnis Ojol menawarkan “piring baru”.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Abdul-Karim-Ketua-Dewas-LAPAR-Sulsel-Majelis-Demokrasi-Humaniora-9.jpg)