Lensa Publik
Kesaktian Pancasila di Era Digital
Maknanya, cara-cara kita menginjeksi nilai Pancasila kepada generasi muda – sepertinya sudah harus berubah.
Oleh: Muh. Iqbal Latief
Dosen Sosiologi/Kapuslit Opini Publik LPPM Unhas
TRIBUN-TIMUR.COM - Masih saktikah Pancasila di era digital sekarang ini ? Tanya ini, merupakan hasil perenungan di kelas. Beberapa tahun terakhir ini, penulis mendapat tugas tambahan sebagai dosen mata kuliah (matkul) Pancasila dan Pendidikan Kewarganegaraan di MKU (Mata Kuliah Umum) Unhas.
Umumnya mahasiswa yang mengambil Pancasila, adalah mahasiswa semester satu dan masih sangat fresh dalam memahami nilai, norma dan kondisi bangsanya.
Karena matkul ini, orientasinya pada aspek kognitif, afektif dan psikomotik – maka model pembelajarannya lebih banyak diskusi, kajian kasuistik dan pengalaman empiris.
Memperingari hari lahir Pancasila 1 Juni kemarin, saya berdialog dengan mahasiswa yang belajar Pancasila, dan spontan mereka mempertanyakan “ bagaimana nilai dan norma Pancasila, masih bisa menjadi pandangan hidup bangsa di tengah arus perubahan sosial yang makin deras dan kencang ? “ Bukankah hari ini banyak anak muda yang lebih mempercayai produk teknologi informasi dibanding nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila “. “ Mereka lebih percaya pandangan atau pendapat yang berasal dari Google atau AI (artificial intelligent), dari pada nilai budaya Pancasila ? “. Bagaimana ini ? Bagaimana itu ?
Riuh diskusi di kelas Pancasila, menghentak kesadaran baru kita sebagai warga bangsa. Generasi baru yang sering disebut milenial atau gen Z, ramai-ramai mulai menggugat filosofi dan esensi Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa. Karena mereka menilai, banyak hal baru yang sudah tidak bersesuaian dengan nilai Pancasila.
“ Sprit Pancasila mengajarkan kita hidup dalam suasana yang harmonis, penuh kekeluargaan, kebersamaan dan saling hormat menghormati. Kita diajarkan untuk saling tenggang rasa (tepo seliro) dan menjaga kerukunan. Tapi dalam dunia baru (era digital) ajaran Pancasila, mengalami reduksi yang luar biasa. Hari ini, media sosial (medsos) menjadi nilai baru dalam kehidupan sosial. Atas nama kebebasan, medsos telah mengajarkan masyarakat nilai baru yaitu kritis, terbuka dan saling “menelanjangi”. Tidak ada lagi, peristiwa atau kegiatan masyarakat atau komunitas yang tidak diposting (ditayangkan). Bahkan cenderung Medsos, memperlemah daya rekat masyarakat sebagai sebuah bangsa yang beradab.
“ Apalagi sekarang ini pak, kami generasi Z (Gen Z), mulai kehilangan figur pemimpin yang mampu menjadi panutan dalam berperilaku, bersikap dan bertindak. Hedonisme merajalela, individualistik makin mengkhawatirkan dan jurang kesenjangan sosial ekonomi makin menganga. Makanya, banyak diantara kami lebih memilih berdialog dengan AI atau Google untuk mencari jalan keluar dari masalah yang kami hadapi “, begitu ungkap mahasiswa baru (Gen Z) tersebut.
Pandangan ini bisa saja mewakili keresahan Gen-Z dan boleh juga fragmentaris. Namun, cara pandang Gen-Z yang nota bene pewaris sah republik Indonesia dan calon pemimpin bangsa – mendesak untuk didiskusikan lebih serius.
Maknanya, cara-cara kita menginjeksi nilai Pancasila kepada generasi muda – sepertinya sudah harus berubah.
Di era digital sekarang ini, Pancasila harus tetapi menjadi pandangan hidup (way of life) – agar bangsa ini tetap utuh dan tidak bercerai berai. Caranya ? Pancasila harus tetap bersemayam dalam hati dan sanubari Gen-Z.
Maka tanyakanlah pada Gen-Z, bagaimana mereka mau dan mampu menjadikan Pancasila tetap ada dalam diri mereka agar Indonesia tetap ada.
Satu hal yang pasti, di era digital -- teknologi selalu akan memberikan kebahagiaan dan sekaligus kesengsaraan. Selamat Ultah Pancasila…….
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20251020-Muh-Iqbal-Latief.jpg)