Opini
Begal, Kota Besar, dan Masa Depan Keamanan Indonesia
Warga dan otoritas kota pun menghadapi persoalan serupa. Rasa nyaman warganya diteror, justru saat jalan kian lebar.
Oleh: Prof. Dr. Ir. Zakir Sabara HW., ST., MT., IPM., ASEAN Eng., APEC Eng.
Wakil Rektor 2 UMI / Sekretaris KBPP Polri Sulawesi Selatan
"Kejahatan sering kali lahir bukan karena kurangnya jalan raya, tetapi karena kurangnya jalan masa depan."
MENGAPA begal masih terus meneror rasa aman warga kota-kota besar Indonesia?
Bukan di Makassar saja, keresahan ini mengusik warga Jakarta, Medan, Palembang, Surabaya, Semarang, hingga puluhan kota urban penyangga metropolitan.
Warga dan otoritas kota pun menghadapi persoalan serupa.
Rasa nyaman warganya diteror, justru saat jalan kian lebar.
Lampu kota makin terang. Kamera pengawas tak tidur 24 jam.
Teknologi kepolisian semakin modern.
Namun berita tentang pembegalan masih berulang hadir di layar telepon genggam kita.
Disebut teror, sebab kejadiannya nyata, berulang, dan misterius.
Kapan dan dimana begal beraksi tak terdeteksi.
Siapa korbannya? Kita; anak, tetangga, sahabat, kerabat adalah calon korban.
Kita hanya tahu bagaimana modus operandinya; mereka menyerang dengan kekerasan, melukai, hingga kerap membunuh.
Bentuknya mungkin berbeda, tetapi substansinya serupa: sebagian masyarakat masih merasa bahwa ruang publik belum sepenuhnya aman.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/TRIBUN-OPINI-Prof-Dr-Ir-Zakir-Sabara-HW.jpg)