Opini Mahmud Suyuti
Halal Bihalal: Silaturrahim Lintas Alam Kubur
Acara maaf-memaafkan sangat sesuai dengan hakikat Idul Fitri. Idul berarti kembali sedangkan fitri berarti kesucian.
Selain itu, muncul gerakan politik di bawah tanah untuk merongrong kedaulatan NKRI.
Puncaknya pada tahun 1948 bangsa ini dilanda gejala disintegrasi, terjadi pemberontakan DI/TII, PKI Madiun dan di mana-mana.
Situasi dilematis politik yang demikian bertepatan dengan bulan Ramadan sehingga Kiai Hasyim dan Kiai Wahab memberi saran kepada Bung Karno untuk menyelenggarakan silaturahim nasional karena sebentar lagi Idul Fitri dirayakan.
Pasca Idul Fitri, Bung Karno mengundang seluruh elit politik dan mendudukkan dalam satu forum silaturahim yang dikemas dengan acara Halal Bihalal di Istana Negara.
Akhirnya mereka duduk bersama dalam satu meja dan saling memaafkan, tidak lagi saling menyalahkan melainkan saling menghalalkan sebagai pelebur dosa dari kesalahan masa lalu, inilah inti dari halal bihalal.
Menjadilah halal bihalal sebagai tradisi rutin kenegaraan setiap selesai Idul Fitri atau di bulan Syawal ini dan diikuti oleh instansi-instansi kemudian secara cepat menyebar di tengah-tengah masyarakat, dilaksanakan di seluruh wilayah Nusantara, bahkan sampai ke negara-negara tetangga terutama Brunei dan Malaysia.
Halal bihalal ada yang dilaksanakan secara formal di instansi-instansi dan lembaga, ada pula dalam bentuk nonformal dengan cara silaturahim biasa saling mengunjungi yang diistilahkan dengan ziarah ke sanak keluarga, kerabat dan sahabat.
Halal Bihalal saat Mudik dan Ziarah Kubur
Pra dan pasca lebaran kebanyakan di antara kita mudik, pulang kampung.
Di Kampung mereka silaturrahim dengan sanak keluarga dan kerabat sambil ziarah kubur termasuk dari seremoni halal bihalal.
Jadi halal bihalal bukan saja silaturrahim di kampung tetapi juga ziarah kepada keluarga dan kerabat yang telah wafat.
Nabi SAW setiap ziarah ke makam Baqi memberi salam Assalamualaikum ya Ahladdiar untuk silaturrahim dengan sahabat yang dimakamkan di Baqi tetapi juga silaturarrahim dengan para peziarah.
Sudah mentradisi di masyarakat setelah lebaran mereka mudik, pulang kampung, bukan saja ziarah ke sanak keluarga di kampung tetapi juga ziarah kubur.
Saat ziarah kubur mereka juga ketemu dengan peziarah lain di sana dan saling berjabat tangan, bermaaf maafan, saling mendoakan, saling berbagi cerita dan pengalaman, itu semua adalah rangkaian dari syiar Halal Bihalal.
Banyak keluarga yang sama-sama menetap di kota yang sama, di Kota Makassar misalnya tetapi mereka jarang ketemu.
Saya tinggal di sudiang, adik saya di Samata, sepupu dan keluarga lain di Barombong, namun kami tidak pernah bertemu kecuali lewat telponan dan chat via WhatsApp.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2025-12-05-Mahmud-Suyuti.jpg)