Opini Mahmud Suyuti
Halal Bihalal: Silaturrahim Lintas Alam Kubur
Acara maaf-memaafkan sangat sesuai dengan hakikat Idul Fitri. Idul berarti kembali sedangkan fitri berarti kesucian.
Tanpa janjian setelah lebaran kami ziarah kubur di kampung, disanalah kami silaturrahim, di kuburan kami saling bersalam-salaman, saling berpelukan melepas kerinduan.
Saat ziarah kubur kami melaksanakan halal bihalal dengan cara menyebut asma Allah, di kuburan kami berkumpul membaca ayat-ayat al-Qur’an, tahlil, berzikir dan berdoa yang tidak pernah kami temukan momen seperti itu saat di kota walaupun kediaman kami tidak begitu berjauhan.
Sudah berabad-abad lamanya, ternyata mereka yang telah wafat bisa menjadi wasilah bagi kita bersilaturrahim.
Kuburannya bisa mengumpulkan orang untuk halal bihalal.
Kita yang masih hidup bisanya apa? kita harus malu jika belum bisa mengumpulkan anak-anak kita untuk ngaji, kita semestinya punya rasa malu kalau belum bisa mengajak keluarga untuk kumpul berdoa dan berzikir.
Lebih berbahaya lagi jika ada paham tertentu yang melarang kita ziarah kubur.
Melarang ziarah kubur, berarti menyalahi tradisi Nabi saw yang ziarah ke makam Baqi.
Melarang ziarah kubur, juga bisa berarti menghalangi orang untuk silaturrahim dan halal bihalal.
Wallahul Muwaffiq Ila Aqwamit Thariq.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2025-12-05-Mahmud-Suyuti.jpg)