Opini
MBG Sunnah Rasul
Mereka menilai program ini biasa saja, jika berjalan tidak perlu dipermasalahkan, sebaliknya jika ditiadakan pun masyarakat tidak dirugikan.
Telur menjadi makanan istimewa, apalagi jika dicampur sambal dan sayur.
Lebih istimewa lagi jika dapat makan ayam, biasanya di kampung, kami makan ayam jika ada hajatan, itu pun sekali sebulan sudah cukup.
Ketika masuk pondok, menu favorit dapur adalah ikan teri campur sambal, dan nasi putih.
Itu cukup lumayan, namun jika lauknya begitu terus dapat menimbulkan alergi, akhirnya banyak santri terserang penyakit kulit, gatal dan tumbuh nanah, karena terus menerus digaruk seperti orang main gitar.
Sewaktu kuliah, saya sering bergurau, "Andai sejak kecil saya diberi makanan bergizi, khususnya pada fase pertumbuhan, mungkin kecerdasan saya bisa seperti Habibie!"
Dengan adanya program MBG, seharusnya pemerintah didukung.
Tentu program ini tidak sempurna, banyak yang harus dievaluasi, salah satunya, banyaknya jenis pembiayaan yang tidak terkait dengan kualitas menu makanan.
Seperti pembangunan tempat Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang seharusnya cukup memanfaatkan kantin sekolah, seperti di Malaysia.
Atau pengadaan kendaraan, baju, kaos kaki, dan sejenisnya.
Barang-barang tersebut terlalu menyedot anggaran program MBG yang pada akhirnya merugikan penerima manfaat.
Berdasarkan analisa saya, mayoritas yang protes program MBG adalah masyarakat perkotaan yang memang makanan mereka sudah kelebihan gizi.
Sementara anak-anak pedesaan yang sebagian besar kekurangan gizi seharusnya mendapat makanan yang penuh dengan asupan gizi.
Intinya, program MBG sangat bermanfaat, tetapi banyak masalah yang harus diselesaikan pemerintah, termasuk memangkas biaya yang tidak penting.
Selain itu, harus dipastikan jika setiap penyajian makanan sudah memenuhi standar dari Badan Gizi Nasional, agar tidak ada lagi cerita makanan berulat, basi, dan menimbulkan keracunan bagi anak.
Ketika negara menetapkan kebijakan yang penuh maslahat (tasharruf ar-ra'iyyah manuthun bil mashlahah) maka seharusnya kita dukung.
Sebab sejatinya, negara memang harus hadir dalam menyediakan generasi yang kuat, baik mental maupun fisiknya, salah satunya dengan menyediakan makanan bergizi yang pembiayaannya menggunakan uang negara.
Tidak hanya menikah dan poligami, berbagi makanan hakikatnya Sunnah Rasul yang sangat ditekankan. Wallahu A'lam!
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20251003-Dr-Ilham-Kadir.jpg)