Opini
MBG Sunnah Rasul
Mereka menilai program ini biasa saja, jika berjalan tidak perlu dipermasalahkan, sebaliknya jika ditiadakan pun masyarakat tidak dirugikan.
Oleh: Ilham Kadir
Peneliti dan Penulis / Dosen UNIMEN
TRIBUN-TIMUR.COM - Tidak ada yang lebih menarik didiskusikan saat ini selain Makan Bergizi Gratis yang dikenal dengan "MBG".
Sejak diluncurkan pada 6 Januari 2026 oleh Bapak Presiden Prabowo Subianto, program MBG tidak pernah sepi dari kritik, saran, dan apresiasi dari berbagai kalangan.
Puncaknya, ketika tiga mantan pucuk pimpinan Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, Sonny Sonjaya, dan Lodewyk Pusung ditangkap oleh Kejaksaan Agung Republik Indonesia pada Rabu, 3 Juni 2026.
Mereka dituduh melakukan tindak pidana korupsi terhadap dana MBG.
Golongan pertama yang sejak awal menentang program ini makin keras kritiknya, dan meminta agar proyek MBG segera dihentikan tanpa syarat, selain tak berguna, minus manfaat, juga menjadi ladang korupsi beberapa pihak.
Ada pula golongan kedua, 'moderat', tidak mau ambil pusing.
Mereka menilai program ini biasa saja, jika berjalan tidak perlu dipermasalahkan, sebaliknya jika ditiadakan pun masyarakat tidak dirugikan.
Golongan ketiga menilai bahwa program MBG sangat dibutuhkan dengan berbagai dalil sebagai landasan berpendapat.
Baik dalil agama, dalil budaya, maupun akal, walaupun tetap melemparkan kritik dan saran pada beberapa aspek sebagai bahan evaluasi.
Sebagai negara demokrasi yang kekuasaan di tangan orang banyak atau rakyat, maka semua pihak berhak mengeluarkan pendapat, dan setiap pendapat harus diiringi oleh argumentasi, dan setiap argumentasi berpijak pada dasar dalil yang kuat.
Tulisan ini bertujuan memperkuat pendapat bahwa program MBG sangat bermanfaat dan seharusnya terus berjalan walaupun disertai beberapa catatan.
Perintah Berbagi Makanan
Dalam agama Islam, dan sudah pasti juga pada agama-agama lain, perintah untuk saling berbagi sangat ditekankan, bahkan berbagi antar sesama merupakan lambang cinta.
Artinya memberi adalah bukti nyata cinta seseorang pada orang lain, sebab itu dalam filosofi Barat, saling berbagi disebut filantropi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20251003-Dr-Ilham-Kadir.jpg)