Opini
Makassar Toen en Nu, Ketika Sejarah dan Kemajuan Harus Berjalan Bersama
Barangkali bukan karena Makassar kekurangan sejarah. Kita hanya terlalu sering melihatnya sehingga lupa menghargainya.
Ketika sebuah bangunan bersejarah hilang atau sebuah kawasan kehilangan karakternya, yang lenyap bukan hanya bentuk fisiknya.
Yang ikut hilang adalah sebagian cerita tentang perjalanan Makassar.
Padahal banyak kota di dunia menunjukkan bahwa pembangunan dan pelestarian bukanlah dua hal yang saling bertentangan.
Bangunan-bangunan bersejarah yang telah berusia ratusan tahun tetap dipertahankan dan menjadi bagian dari kehidupan modern.
Di sekitarnya tumbuh pusat-pusat ekonomi, kawasan bisnis, dan berbagai fasilitas perkotaan.
Masa lalu dan masa kini berjalan berdampingan.
Kota-kota tersebut menjadi menarik bukan hanya karena bangunan barunya, tetapi juga karena kemampuannya menjaga cerita lama yang membentuk identitasnya.
Makassar sesungguhnya memiliki peluang yang sama.
Kota ini memiliki sejarah panjang yang tercermin dalam bangunan, benda, situs, struktur, dan kawasan cagar budaya yang masih bertahan hingga hari ini.
Warisan tersebut bukan hambatan bagi pembangunan, melainkan aset yang dapat memperkaya wajah kota.
Menjaga bangunan bersejarah bukan berarti menjadikannya ruang yang sepi dan tak tersentuh.
Justru banyak bangunan lama yang dapat diberi kehidupan baru.
Ada yang menjadi museum, galeri, ruang komunitas, pusat kegiatan budaya, kafe, bahkan restoran.
Dengan pengelolaan yang tepat, bangunan bersejarah tetap terawat, memiliki nilai ekonomi, dan tetap dapat dinikmati masyarakat tanpa kehilangan karakter sejarahnya.
Warisan budaya tidak harus berhenti menjadi bagian dari masa lalu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Andi-Emil-Fitrah-Ramadhani.jpg)