Opini
QRIS, Warung, dan Ancaman Baru Judi Online di Lingkungan Sekolah Dasar
Instingnya benar, yang tampak seperti transaksi game biasa ternyata berpotensi menjadi jalur masuk judi online.
Mereka bisa memahami aturan permainan, tetapi belum selalu mampu memperkirakan risiko kecanduan atau kerugian finansial yang muncul dari perilaku digital tertentu.
Pada saat yang sama, menurut teori perkembangan psikososial Erik Erikson, mereka sedang berada pada fase industry versus inferiority.
Anak mulai ingin diakui kemampuannya, ingin merasa kompeten, dan sangat peka terhadap penghargaan maupun pengakuan sosial.
Tidak mengherankan jika sistem hadiah instan, poin, level, bonus, atau gacha dalam berbagai platform digital menjadi sangat menarik bagi mereka.
Mekanisme yang tampak sederhana bagi orang dewasa sering kali memiliki daya tarik psikologis yang jauh lebih besar bagi anak yang masih berada dalam tahap perkembangan tersebut.
Dengan kata lain, anak kelas lima SD bukanlah anak kecil yang harus selalu digandeng, tetapi juga belum cukup dewasa untuk dilepas berjalan sendirian di tengah lalu lintas digital yang dirancang oleh industri bernilai triliunan rupiah.
Menariknya, Islam sejak awal telah mengenali bahwa anak membutuhkan pendampingan yang berbeda sesuai fase usianya.
Rasulullah bersabda: "Perintahkanlah anak-anak kalian untuk melaksanakan salat ketika mereka berusia tujuh tahun..." (HR. Abu Dawud, dinilai hasan oleh para ulama).
Hadis ini menunjukkan bahwa pendidikan tidak menunggu anak menjadi dewasa.
Ada masa ketika anak perlu diarahkan, dibimbing, dan diawasi secara aktif sebelum mampu memikul tanggung jawabnya sendiri.
Dalam perspektif perkembangan, kemandirian bukanlah kemampuan yang tiba-tiba muncul ketika anak mencapai usia tertentu.
Ia tumbuh melalui proses yang panjang: dari ketergantungan menuju tanggung jawab, dari arahan menuju pengambilan keputusan, dan dari pendampingan menuju pengelolaan diri.
Dalam konteks ancaman digital hari ini, persoalannya justru sering kali berkebalikan.
Banyak orang tua tidak terlalu mengawasi, bukan karena sengaja memberi kebebasan, melainkan karena tidak memahami medan yang sedang dihadapi anak-anak mereka.
Padahal anak usia sekolah dasar akhir hingga awal remaja sedang berada pada fase transisi yang unik: mereka mulai menginginkan kepercayaan, tetapi belum sepenuhnya memiliki kemampuan untuk mengenali dan mengelola seluruh risiko yang menyertainya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Fakultas-Psikologi-09062026.jpg)