Opini
QRIS, Warung, dan Ancaman Baru Judi Online di Lingkungan Sekolah Dasar
Instingnya benar, yang tampak seperti transaksi game biasa ternyata berpotensi menjadi jalur masuk judi online.
Valkenburg dan Peter (2013), melalui Differential Susceptibility to Media Effects Model (DSMM), menjelaskan bahwa efek konten digital tidak bekerja sama rata pada semua orang.
Anak-anak memiliki tiga lapis kerentanan sekaligus: secara dispositional mereka lebih impulsive, secara developmental sistem pengendalian diri, penilaian risiko, dan perencanaan jangka panjang yang banyak melibatkan korteks prefrontal masih terus berkembang hingga akhir masa remaja, dan secara sosial mereka tumbuh dalam lingkungan yang belum mampu memberi pagar digital yang memadai.
Ketiga lapis ini bekerja bersamaan, dan platform judi berkedok game beroperasi efektif tepat di celah kerentanan itu.
Livingstone dan Helsper (2008), dalam studi berbasis survei nasional di Inggris terhadap 1.511 anak dan 906 orang tua, menemukan bahwa strategi mediasi yang paling umum dipraktikkan orang tua, co-use tidak selalu efektif apabila tidak disertai pemahaman mendalam terhadap ekosistem daring.
Temuan tersebut mengingatkan bahwa pendampingan orang tua tidak cukup hanya berupa kehadiran fisik.
Efektivitasnya sangat bergantung pada pemahaman orang tua terhadap lingkungan digital yang digunakan anak.
Di situlah tantangan besar pengasuhan modern muncul.
Banyak orang tua mengenal jadwal pelajaran anak, tetapi tidak mengenal permainan yang dimainkan anak.
Mereka mengetahui nilai rapor anak, tetapi tidak memahami algoritma yang setiap hari bersaing memperebutkan perhatian anak.
Banyak orang tua Indonesia tidak tahu apa itu gacha, tidak memahami mekanisme loot box dalam game, apalagi mengenali bahwa sebuah QRIS di warung kelontong bisa menjadi pintu masuk ke platform judi.
Masalahnya bukan ketidakpedulian orang tua.
Masalahnya adalah ekosistem digital yang bergerak lebih cepat dari kapasitas mana pun untuk mengejarnya, termasuk kapasitas regulasi negara.
Sementara itu, Kementerian Komunikasi dan Digital menyebut hampir 200.000 anak Indonesia telah terpapar judi online, dengan sekitar 80.000 di antaranya berusia di bawah 10 tahun, angka yang melonjak dalam tempo yang tidak memberi orang tua maupun regulator waktu untuk belajar.
Kerentanan ini menjadi semakin penting dipahami ketika kita berbicara tentang anak usia sekolah dasar akhir, sekitar kelas lima dan enam SD.
Dalam teori perkembangan kognitif Jean Piaget, anak pada usia ini berada pada tahap concrete operational, yaitu mulai mampu berpikir logis, tetapi masih kesulitan memahami konsekuensi abstrak yang jauh di masa depan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Fakultas-Psikologi-09062026.jpg)