Salam Tribun Timur
Dapur Koruptor
Program ini bahkan dipromosikan sebagai salah satu simbol keberpihakan negara kepada masa depan.
TRIBUN-TIMUR.COM - Proyek Makan Bergizi Gratis (MBG) sejatinya lahir dari niat besar: memberi makan anak-anak Indonesia, memperbaiki gizi generasi, dan mengurangi ketimpangan pangan.
Program ini bahkan dipromosikan sebagai salah satu simbol keberpihakan negara kepada masa depan.
Tapi publik justeru menyaksikan babak yang ironis. Satu per satu koruptor dan perampok uang negara bermunculan dari dapur MBG.
Satu per satu temuan dapur tidak sesuai SOP terkuak.
Peristiwa ini menyisakan pertanyaan besar: bagaimana mungkin program sebesar MBG, dengan dana publik yang luar biasa besar, bisa berjalan dalam pengawasan yang begitu rapuh?
Di titik ini, kritik publik terasa sangat masuk akal.
Karena sejak awal, MBG memang penuh tanda tanya.
Menu makanan dipersoalkan.
Harga satuan diperdebatkan.
Kualitas makanan dikritik.
Distribusi dipertanyakan.
Bahkan janji besar yang diumumkan di ruang publik sering kali sulit diverifikasi di lapangan.
Publik ingat ketika ada klaim ribuan sapi dipotong setiap hari untuk memenuhi kebutuhan protein MBG.
Ketika “sang pahlawan penerima penghargaan” melapor lantang 1 siswa satu ekor lele besar.
Jika dahulu penyimpangan program negara bisa lama tersembunyi di balik meja birokrasi, kini situasinya berbeda.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2025-11-21-Yasika-Aulia-memiliki-41-dapur-MBG-di-Sulsel.jpg)