Opini
Rupiah Melemah dan Krisis Kedaulatan Ekonomi: Membaca Baqir as-Sadr dan Horizon Ekonomi Muqawamah
Pembacaan yang hanya berfokus pada gejala moneter sering kali gagal menjangkau akar persoalan yang lebih mendasar.
Oleh: Ahmad Raihan, S.E
Pegiat Islam Alternatif Forum Pemuda Harapan Bangsa (FPHB) / Kader HMI Gowa Raya
TRIBUN-TIMUR.COM - Pelemahan nilai tukar rupiah hingga menyentuh kisaran Rp18.000 per dolar AS kembali memunculkan kekhawatiran publik.
Dalam situasi seperti ini, perhatian biasanya tertuju pada berbagai instrumen stabilisasi moneter, mulai dari intervensi pasar valuta asing, pengaturan suku bunga, hingga penguatan cadangan devisa.
Nilai tukar kemudian dipahami sebagai persoalan teknis yang harus segera direspons melalui seperangkat kebijakan moneter yang dianggap mampu memulihkan kepercayaan pasar.
Pendekatan tersebut tentu memiliki relevansinya sendiri. Namun, pembacaan yang hanya berfokus pada gejala moneter sering kali gagal menjangkau akar persoalan yang lebih mendasar.
Sebab, pertanyaan yang seharusnya diajukan bukan hanya mengapa rupiah melemah, melainkan mengapa stabilitas ekonomi suatu bangsa sangat bergantung pada sentimen investor, pergerakan arus modal global, dan keputusan-keputusan ekonomi yang lahir jauh di luar batas teritorial negara itu sendiri.
Ketika perubahan suku bunga di negara maju dapat mengguncang pasar keuangan domestik, memengaruhi nilai tukar, dan bahkan mengubah arah kebijakan ekonomi nasional, maka persoalannya tidak lagi semata-mata berkaitan dengan mekanisme pasar.
Fenomena tersebut menunjukkan adanya struktur ketergantungan yang menempatkan banyak negara berkembang pada posisi subordinat dalam tatanan ekonomi hari ini.
Dalam struktur semacam itu, ruang otonomi negara untuk menentukan agenda pembangunan secara mandiri semakin tereduksi oleh tuntutan stabilitas pasar dan reproduksi akumulasi kapital.
Ketergantungan terhadap arus kapital transnasional pada dasarnya merupakan konsekuensi dari model pembangunan yang menjadikan investasi sebagai lokomotiv utama pertumbuhan ekonomi.
Pembiayaan pembangunan, penutupan defisit fiskal, hingga ekspansi kapasitas produksi sering kali bergantung pada masuknya modal dari pasar keuangan global.
Akibatnya, kebijakan ekonomi nasional tidak jarang dirancang untuk menjaga daya tarik investasi dan memastikan keberlanjutan arus modal tersebut.
Di satu sisi, strategi ini memang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi. Akan tetapi, pertumbuhan ekonomi tidak selalu identik dengan peningkatan kesejahteraan yang merata sebagaimana aqidah para ekonom neoklasik tentang Trickle Down Effect.
Dalam banyak kasus, pertumbuhan justru berlangsung bersamaan dengan konsentrasi kekayaan yang semakin tajam.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2026-06-08-Ahmad-Raihan-SE.jpg)