Pancasila dalam Pengaruh Algoritma, Bagaimana menjaga Kemanusiaan di Linimasa?
Dunia maya adalah dunia nyata baru, meminjam istilah Jean Baudrillard yang disebut hiperrealitas
Oleh: Randiawan
Dosen Pendidikan Kewarganegaraan FIS-H UNM
LINIMASA seolah menyambut dengan ramah berita yang sesuai minat, video yang menghibur, hingga pendapat yang terasa sejalan dengan apa yang kita yakini. Tapi di balik kenyamanan itu, bekerja sebuah sistem yang tidak pernah tidur yaitu algoritma yang terus mempelajari kebiasaan, preferensi, bahkan emosi kita.
Tanpa kita sadari dunia hari ini tidak lagi digerakkan oleh kesadaran, tapi apa yang kita sebut algoritma. Di bawah kendali mekanis inilah, nilai luhur seperti 'Kemanusiaan' tidak lagi diuji oleh konflik fisik di dunia nyata, tetapi ketukan jempol kita di ruang maya. Dari refleksi ini timbul pertanyaan mendasar bagaimana menjaga Kemanusiaan di linimasa?
Dunia maya adalah dunia nyata baru, meminjam istilah Jean Baudrillard yang disebut hiperrealitas, suatu kondisi yang menggambarkan batas antara simulasi (dunia maya) dan realitas (dunia nyata) menjadi kabur. Apa yang terjadi di linimasa memiliki dampak kausalitas yang nyata di dunia fisik. Memisahkan moralitas dunia nyata dengan dunia maya merupakan kekeliruan nyata. Karena kemanusiaan bukan tentang di mana kita berada, tapi tentang siapa kita.
Ketika cyberbullying, menyebarkan hoaks yang memecah belah, dan mengorbankan martabat sesama manusia demi mendulang angka like dan viralitas seringkali terjadi di dunia maya, Pancasila sebagai kompas moral harus hadir bukan sebagai dokumen sejarah yang statis, tapi sebagai cyber-humanism sebuah kesadaran etis yang melekat pada kesadaran manusia Indonesia. Sehingga pancasila tidak sekadar slogan politik dan hafalan usang, tidak hanya menjadi tameng retoris yang sakral di dunia nyata, namun kehilangan makna dengan dinginnya manipulasi algoritma saat ini.
Fenomena hari ini di dunia maya memberikan gambaran bahwa Pancasila sebagai kompas moral bangsa sedang menghadapi ujian eksistensial yang paling senyap namun destruktif. Ruang digital kita sengaja didesain untuk memanen keuntungan dari emosi negatif. Ancaman ini luput kita sadari karena kita terlalu sibuk merayakan kemudahan digital, tanpa sadar bahwa algoritma perlahan sedang mengikis sendi-sendi kemanusiaan dengan menyekat masyarakat ke dalam ruang-ruang gema (echo chambers) yang saling bermusuhan.
Jika Pancasila dibiarkan pasif sebagai slogan retoris di dunia nyata tanpa adanya intervensi etis yang radikal dari masyarakat dan pemerintah, maka menurut hemat penulis Pancasila akan kehilangan nilai sebagaimana yang dimaknai oleh pendiri bangsa yang disebut Philosophische grondslag dan Weltanschauung.
Pancasila terjebak dalam Ruang Gema
Kendali algoritma di dunia maya sangat kuat dapat mempengaruhi pola pikir, tindakan masyarakat bahkan dapat berdampak pada Pancasila sebagai prinsip dasar berbangsa dan bernegara. Tentunya hal tersebut membuat Pancasila mengalami penyempitan ruang secara nyata akibat terjebak dalam echo chamber.
Algoritma media sosial bertindak sebagai kurator yang sengaja menyajikan informasi yang hanya selaras dengan preferensi pribadi kita demi meraup keuntungan baik secara materi maupun non materi.
Secara tidak langsung kondisi semacam ini membuat Pancasila di dunia maya tidak menjadi nilai yang hidup, dinamis, dan berkembang, tapi sekadar simbol tidak lebih dari itu.
Pancasila dalam ruang gema di dunia maya memicu distorsi terhadap nilai kemanusiaan. Ruang publik digital menjadi blok-blok eksklusif yang kedap suara dan di kendalikan kelompok-kelompok yang mendapat keuntungan. Seringkali kita melihat di media sosial adalah narasi-narasi provokatif yang dapat memecah belah bangsa dan menjadi ancaman bagi keberadaan Pancasila sebagai kompas moral.
Bangsa ini telah menjadikan Pancasila sebagai kompas moral yang menuntut konsistensi etis tidak boleh terbelah oleh sekat dan ruang. Pancasila mesti hidup sama kuatnya, baik di dunia nyata maupun di dunia maya.
Ketukan jempol di layar gawai memiliki daya rusak yang besar bagi nilai-nilai kemanusiaan. Sejauh mana Pancasila masuk ke dalam kesadaran digital kita sebagai pengguna media sosial yang Indeks kesantunan digital yang rendah? Pertanyaan ini sebagai reflektif apakah pancasila tidak mampu membangun kesadaran kolektif dalam bermedia sosial.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20260602-Randiawan.jpg)