Opini
Begal, Kota Besar, dan Masa Depan Keamanan Indonesia
Warga dan otoritas kota pun menghadapi persoalan serupa. Rasa nyaman warganya diteror, justru saat jalan kian lebar.
Kondisi ini tentu tidak otomatis melahirkan niat dan perilaku jahat.
Masih ada jutaan masyarakat memilih tetap hidup sederhana dan merasa cukup.
Mereka tetap memilih jalan benar, lurus, nan bermartabat.
Namun tekanan ekonomi berkepanjangan bisa memupuk benih kekerasan dan niat jahat.
Tekanan ini justru bisa jadi ruang tumbuh aneke persoalan sosial apabila bertemu dengan faktor lain; Penyalahgunaan narkoba atau putus sekolah misalnya.
Rendahnya keterampilan kerja contoh lainnya.
Jika contoh masalah sosial itu bersanding dengan minimnya perhatian orangtua, lemahnya pengawasan keluarga dan lingkungan buruk pergaulan, akan menjadi akumulasi pemicu.
Apalagi jika deretan persoalan diatas bertemu dengan budaya kekerasan yang semakin mudah diakses melalui media digital.
Cerita, berita dan data mengkonfirmasi banyak pelaku begal yang ditangkap justru berasal dari kelompok usia muda.
Usia yang seharusnya digunakan untuk belajar, bekerja, berwirausaha, dan membangun masa depan.
Dari sudut pandang ini, begal sesungguhnya bukan persoalan kriminalitas belaka.
Begal adalah indikator kesehatan sosial dan ekonomi masyarakat.
Kota Modern bukan Beton Saja
Selama ini keberhasilan pembangunan kerapa diukur dari konstruksi panjang jalan, jumlah jembatan yang diresmikan, kawasan bisnis baru, atau investasi yang masuk.
Semua itu penting.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/TRIBUN-OPINI-Prof-Dr-Ir-Zakir-Sabara-HW.jpg)