Klakson Abdul Karim
Kisah Keringat
Motivasi mereka hanya satu; tak ingin hidupnya beku laksana cor beton bangunan yang dikerjakannya saban hari.
Mereka membanting tulang, menggerakkan daging tubuhnya tanpa lelah.
Mereka orang-orang kalah mungkin sejak lahir.
Mereka tak pernah bermimpi jadi pemenang.
Mereka tak pernah berhajat umroh berkali-kali.
Mereka tak pernah bercita-cita plesiran antar benua.
Motivasi mereka hanya satu; tak ingin hidupnya beku laksana cor beton bangunan yang dikerjakannya saban hari.
Motovasi itu terdengar sederhana ditengah negeri yang senantiasa menyederhanakan penderitaan warganya.
Kisah-kisah perempuan tangguh itu barangkali tak pernah dibaca disetiap peringatan Hari Kartini.
Kisah mereka berpeluh mungkin tak pernah menjadi edukasi insipiratif di forum-forum enterpreneur.
Tokoh-tokoh agamapun barangkali tak pernah membahasnya sebagai bahan mensahkan sebuah fatwa transformatif.
Organisasi pemuda dan mahasiswa mungkin pula tak pernah mendiskusikan fenomena perempuan-perempuan tangguh itu lalu menyusunnya sebagai agenda gerakan emansipasi kemiskinan.
Media massa barangkali jarang mewartakannya.
Dan yang fatal bila penyelenggara negara tak pernah merapatkannya.
Mungkin hanya para dermawan narsis yang menyentuhnya disaat Jum’at berkah atau jelang lebaran.
Atau hanya para politisi rutin menyapanya sekali lima tahun.
Pernahkah Tuan pikirkan harga keringat mereka?
Pernahkah Tuan renungkan derita mereka?
Oh negara, dapatkah kau rasakan pedihnya perjuangan mereka?
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Abdul-Karim-Ketua-Dewas-LAPAR-Sulsel-Majelis-Demokrasi-Humaniora-9.jpg)