Klakson Abdul Karim
Puasa dan Bengkel Kemanusiaan
Kita tak pernah merefleksikan apakah pencapaian yang kita temukan bukan bagian dari nafsu dan ego.
Oleh: Abdul Karim
Ketua Dewas LAPAR Sulsel, Anggota Majelis Demokrasi & Humaniora
TRIBUN-TIMUR.COM - Puasa itu adalah titah kemanusiaan.
Tuhan Maha Tahu bahwa banyak orang tak menjadi manusia.
Agar mampu menjadi manusia, puasa diturunkan sebagai perintah kemanusiaan.
Disini puasa berfungsi laksana mesin cuci; membersihkan segala kotor dan onak pada manusia.
Untuk apa? Agar kita sebenar-benarnya menjad manusia.
Kita tahu, struktur manusia terbagi dua; yang tampak dan yang tak tampak.
Maka pada puasa organ tubuh dimanusia sebagai sesuatu yang tampak sasarannya; tenggorokan dan perut.
Adapun yang tak tampak, adalah nafsu dan ego.
Maka puasa yang esensial adalah puasa yang mampu menjaga tenggorokan, perut, nafsu dan ego.
“Menjaga” disini bermakna mesin cuci.
Tenggorokan dicuci, perut dicuci, nafsu dicuci, ego dibersihkan.
Itulah mengapa dalam dunia sains kesehatan, puasa disebut menyehatkan.
Dan dalam disiplin ilmu psikologi, menjaga nafsu dan ego menyehatkan/menormalisasi jiwa.
Dalam konteks ini puasa sebenarnya adalah “bengkel kemanusiaan”.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Abdul-Karim-Ketua-Dewas-LAPAR-Sulsel-Majelis-Demokrasi-Humaniora-1.jpg)