Opini
Kepatuhan dan Tantangan Budaya Kritis di Sekolah
Mengajar dua puluh hingga tiga puluhan murid dalam satu kelas bukan pekerjaan mudah.
Oleh: Aminul Arif
Guru di SIT Albiruni Mandiri
TRIBUN-TIMUR.COM - Mengajar dua puluh hingga tiga puluhan murid dalam satu kelas bukan pekerjaan mudah.
Ketertiban sering menjadi syarat agar pelajaran bisa berjalan dan target kurikulum tercapai.
Namun, di balik kelas yang rapi dan tenang, ada pertanyaan yang jarang diajukan, apakah murid benar-benar memiliki kesadaran terkait apa yang mereka lakukan, atau hanya belajar mengikuti intruksi?
Dalam praktik sehari-hari, kepatuhan kerap menjadi ukuran keberhasilan pembelajaran.
Murid yang diam, tertib, dan mengikuti instruksi dianggap sebagai siswa teladan.
Sebaliknya, murid yang terlalu sering mempertanyakan segala hal yang sifatnya dianggap menyimpang sering kali dinilai mengganggu kelancaran kelas.
Hal ini berlangsung begitu wajar, hingga jarang disadari bahwa kepatuhan yang awalnya dimaksudkan untuk membantu proses belajar, perlahan justru dijadikan ukuran keberhasilan pendidikan.
Penting untuk ditegaskan sejak awal, kritik terhadap kepatuhan bukanlah penolakan terhadap disiplin.
Dalam pendidikan, kepatuhan memang diperlukan sebagai fondasi awal.
Anak perlu belajar duduk, mendengar, dan mengikuti aturan sebelum mampu menilai dan mempertanyakan.
Tanpa struktur atau aturan yang jelas, pembelajaran justru berisiko kehilangan arah.
Masalah muncul ketika kepatuhan berhenti sebagai fondasi dan berubah menjadi tujuan akhir pendidikan.
Kondisi ini tidak bisa dilepaskan dari realitas guru di ruang kelas.
Menghadapi puluhan murid dengan tuntutan kurikulum yang padat dan beban administrasi yang berat, kepatuhan prosedural yang merujuk pada kebiasaan mengikuti aturan dan instruksi secara mekanis, tanpa ruang untuk memahami alasan atau mempertanyakan maknanya sering kali menjadi pilihan paling aman.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/SIT-Albiruni-Mandiri-28042026.jpg)