Klakson Abdul Karim
Politik Ayam
Bedanya dengan ayam kuat tadi adalah mereka punya rasa kenyang. Sementara penguasa kandang politik tak kunjung kenyang.
Oleh; Abdul Karim
Ketua Dewas LAPAR Sulsel / Anggota Majelis Demokrasi & Humaniora
TRIBUN-TIMUR.COM - Konon, ayam adalah salah satu mahluk kuno di dunia.
Sekitar tahun 800 SM dan 700 SM, ayam mencapai Tanduk Afrika sebagai bagian dari perdagangan maritim yang berkembang.
Sekitar 1500 SM, orang-orang di Asia Tenggara telah mengenal ayam hutan.
Prancis, negeri makmur itu menggunakan logo ayam jantan.
Para raja di Prancis menjadikan ayam jantan sebagai simbol keberanian.
Saat revolusi Prancis pecah (1789-1799) ayam jantan menjadi simbol perjuangan rakyat dan nilai-nilai kebebasan, kesetaraan, dan persaudaraan.
Barangkali karena kunonya, ayam di Indonesia menjadi hewan mitologi yang dinamis dikisahkan dalam sejarah bangsa nusantara.
Kisah-kisah kuno tentang ayam bertebaran di negeri kita.
Kisahnya seputar persembahan, upeti dan konsumsi disegala lapisan kelas sosial.
Namun, mungkin kita tak pernah sempat memikirkan bila perilaku ayam ada kemiripan dengan laku politik dinegeri kita.
Simaklah misalnya, ayam punya naluri kompetisi saat mereka disuguhkan makanan.
Mereka berkompetisi menyantap suguhan pakan-pakan yang ditaburkan.
Saling mengejar, saling mematuk, saling bertengkar demi makan.
Usai ayam berkompetisi dapat makan dengan caranya masing-masing, mereka bersahabat lagi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Abdul-Karim-Ketua-Dewas-LAPAR-Sulsel-Majelis-Demokrasi-Humaniora-1.jpg)