Opini
Mubes dan Ujian Integritas IKA Unhas
Artinya, problem utama bukan pada kekurangan aturan, melainkan pada implementasi dan konsistensi.
Oleh: Asri Tadda
Alumni Unhas Angkatan 99
TRIBUN-TIMUR.COM - Jika tak ada aral melintang, organisasi Ikatan Alumni Universitas Hasanuddin (IKA Unhas) akan menggelar Musyawarah Besar (MUBES) pada 1-3 Mei 2026 di Hotel Four Points by Sheraton Makassar.
Jelang forum tertinggi organisasi alumni kampus merah ini, saya sempatkan membaca kembali Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) IKA Unhas.
Rasanya ibarat membuka sebuah cermin besar.
Dari sini, bukan hanya terlihat wajah organisasi saat ini, tetapi juga memeriksa apakah ia masih setia pada ruh yang melahirkannya.
Mukadimah AD/ART IKA Unhas dengan tegas menempatkan alumni sebagai “pelopor dan pandu-pandu bangsa”—sebuah frasa yang tidak ringan.
Ia menuntut keberanian moral, kepekaan sosial, sekaligus kapasitas intelektual.
Alumni tidak sekadar menjadi jejaring sosial pasca kampus, tetapi mitra strategis almamater dan bagian dari kekuatan kebangsaan.
Namun, dalam praktiknya, organisasi alumni kerap terjebak pada rutinitas seremonial atau bahkan tarik-menarik kepentingan.
Di titik inilah MUBES IKA unhas menjadi penting, bukan hanya forum memilih sosok Ketua Umum, tetapi sebagai ruang untuk menguji kembali apakah IKA Unhas masih berjalan di rel pengabdian atau mulai bergeser menjadi arena politik kekuasaan.
Antara Kekeluargaan dan Profesionalisme
IKA Unhas secara eksplisit menyebut dirinya berasas kekeluargaan, gotong royong, kolaboratif, dan inklusif.
Ini adalah kekuatan sekaligus potensi kelemahan.
Kekeluargaan bisa menjadi energi perekat yang luar biasa.
Tetapi tanpa tata kelola yang profesional, ia juga bisa berubah menjadi eksklusivitas, bahkan oligarki kecil.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Asri-Tadda-lUWU-RAYA.jpg)