Klakson Abdul Karim
Kisah Keringat
Motivasi mereka hanya satu; tak ingin hidupnya beku laksana cor beton bangunan yang dikerjakannya saban hari.
Tetapi permaklumannya itu terdengar sebagai gaya keterpaksaan mengalah khas kaum yang tak pernah menang dalam sejarah negeri ini.
Seorang perempuan berbadan ceking ikut antri disebuah gerai jajanan dipinggir jalan.
Raut mukanya yang tak pernah tersentuh skin care kelihatan lelah. Ia merupakan satu diantara ribuan pengayuh Ojol di kota besar ini.
Malam itu, ia mampir membeli sebungkus martabak dan terang bulan.
Wajahnya yang tak seterang bulan itu menyimpan harapan pada seorang bocahnya yang ia sertakan.
Wajah bocah itupun tak seterang bulan, kelihatan matanya layu bertanda ia mengantuk atau entah ia lelah.
Saat ibunya mengantri didepan gerai jajan malam itu, si bocah merengek minta air minum.
Ibunya lekas merogoh sebotol tumbler dibawah sadel motornya.
Sang bocah meneguk bekal air minum itu dengan antusias, dengan mata mengantuk.
Saya tak tahu, apakah jajanan martabak dan terang bulan itu untuk dihidangkan dirumahnya, atau pesanan pelanggannya.
Yang saya tahu ibu muda itu berjuang mencari rupiah disaksikan bocah ingusannya dan Tuhan.
Dan tentu saja, kita pun tahu besarnya resiko jalanan menyertakan bocah ingusan kesana-kemari untuk selembar rupiah yang diperjuangkan.
Fenomena lain kita jumpai di beberapa pembangunan property atau pembangunan gedung-gedung mewah.
Disana, beberapa perempuan bekerja sebagai buruh bangunan.
Kegigihannya mengumpul rupiah tak pernah sirnah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Abdul-Karim-Ketua-Dewas-LAPAR-Sulsel-Majelis-Demokrasi-Humaniora-9.jpg)