Opini
Kepatuhan dan Tantangan Budaya Kritis di Sekolah
Mengajar dua puluh hingga tiga puluhan murid dalam satu kelas bukan pekerjaan mudah.
Sebaliknya, ketika disiplin tidak pernah bertransformasi, sekolah berisiko berubah dari ruang pendewasaan nalar menjadi pabrik yang mencetak murid-murid patuh siap mengikuti sistem, tetapi gagap ketika diminta berpikir di luar pola.
Sejumlah kajian pendidikan menunjukkan bahwa berpikir kritis tidak sepenuhnya tumbuh dari kepatuhan semata, melainkan dari kebiasaan berargumentasi, berdialog, dan mengambil risiko intelektual.
Murid belajar berpikir bukan dengan menghafal jawaban yang benar, tetapi dengan berhadapan pada pertanyaan yang tidak selalu memiliki satu jawaban.
Tanpa pengalaman ini, kemampuan analitis sulit berkembang, betapapun rapi catatan mereka.
Dalam konteks kebijakan, pendekatan deep learning atau pembelajaran mendalam menekankan pemahaman konseptual dan keterkaitan antarmateri.
Namun, pembelajaran mendalam tidak mungkin tumbuh dalam relasi pedagogis yang sepenuhnya bertumpu pada kepatuhan.
Jika ruang kelas hanya memberi ruang bagi jawaban yang aman dan seragam, deep learning berisiko menjadi istilah baru yang berjalan di atas praktik lama.
Budaya kritis dalam pendidikan bukan berarti ketiadaan aturan.
Ia justru membutuhkan struktur yang memungkinkan dialog dan perbedaan.
Budaya ini tumbuh ketika murid diberi kesempatan untuk bertanya, salah, dan memperbaiki argumennya.
Disiplin, dalam pengertian ini, bukan alat untuk membungkam, melainkan kerangka agar percakapan intelektual bisa terjadi dengan tertib.
Perubahan tidak selalu harus dimulai dari kebijakan besar. Langkah paling kecil justru sering kali paling mungkin.
Besok pagi, seorang guru bisa memulainya dengan satu hal sederhana misalnya membuka pelajaran bukan dengan jawaban, tetapi dengan satu pertanyaan terbuka dan memberi waktu bagi murid untuk berpikir, bahkan jika jawabannya belum rapi.
Dari ruang kecil inilah, keberanian berpikir bisa dipupuk.
Sekolah yang tertib tidak harus melahirkan pikiran yang diam asal kepatuhan tidak dijadikan tujuan akhir, melainkan jalan menuju nalar yang bertumbuh.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/SIT-Albiruni-Mandiri-28042026.jpg)