Opini
Kepatuhan dan Tantangan Budaya Kritis di Sekolah
Mengajar dua puluh hingga tiga puluhan murid dalam satu kelas bukan pekerjaan mudah.
Kelas menjadi tenang, materi tersampaikan, dan waktu terkendali.
Dalam konteks ini, kepatuhan lebih sering berfungsi sebagai strategi bertahan, bukan cita-cita pedagogis.
Karena itu, kritik terhadap kepatuhan seharusnya diarahkan pada struktur pendidikan, bukan pada individu guru semata.
Dalam situasi seperti ini, murid belajar bahwa mengikuti aturan lebih aman daripada mengemukakan pendapat.
Mereka terbiasa menunggu instruksi, bukan mengajukan pertanyaan.
Ruang kelas perlahan bekerja seperti ban berjalan, murid bergerak rapi ke depan, tetapi jarang berhenti untuk bertanya ke mana arah mereka dibawa.
Dampak dari pola ini terlihat ketika pembelajaran menuntut kemampuan berpikir tingkat tinggi.
Dalam sebuah tugas analisis sosial, misalnya, siswa mampu merangkum materi dengan rapi dan sistematis.
Namun, ketika diminta menjelaskan sebab–akibat atau mengambil posisi argumentatif, kelas justru hening.
Bukan karena mereka tidak membaca, melainkan karena mereka tidak terbiasa diminta menilai.
Pertanyaan “menurutmu mengapa?” terasa asing, bahkan mengintimidasi.
Kepatuhan yang selama ini dipuji justru menjadi penghalang ketika nalar diminta bekerja.
Di sinilah ketegangan mendasar dalam pendidikan muncul.
Tradisi pedagogi klasik, dari Kant hingga Rousseau, menempatkan disiplin sebagai tahap awal menuju kemandirian berpikir.
Kepatuhan dimaksudkan untuk dilampaui, bukan dipelihara selamanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/SIT-Albiruni-Mandiri-28042026.jpg)