Opini
Indonesia Terlalu Besar untuk Hanya Satu Kartini
Nama Kartini begitu kuat tertanam dalam ingatan kolektif masyarakat Indonesia sebagai simbol perjuangan perempuan.
Penulis: Andi Zulfikar Darussalam, Dosen di UIN Alauddin Makassar
SETIAP tanggal 21 April, bangsa Indonesia kembali memperingati hari lahir Raden Ajeng Kartini.
Nama Kartini begitu kuat tertanam dalam ingatan kolektif masyarakat Indonesia sebagai simbol perjuangan perempuan.
Sejak bangku sekolah dasar, generasi demi generasi diajarkan bahwa Kartini adalah pelopor emansipasi perempuan pribumi, tokoh yang membuka jalan bagi perempuan Indonesia untuk memperoleh hak pendidikan, kebebasan berpikir, dan kesempatan yang setara dengan laki-laki.
Narasi tersebut begitu mapan.
Lagu “Ibu Kita Kartini” menjadi penguat emosional sekaligus legitimasi budaya bahwa perjuangan perempuan Indonesia seolah berpusat pada satu nama.
Dalam berbagai buku sejarah, Kartini digambarkan sebagai sosok tunggal yang melawan tradisi feodal Jawa yang mengekang perempuan.
Ia menggugat praktik pingitan, ketimpangan pendidikan, dan dominasi budaya patriarki melalui surat-suratnya yang kemudian dibukukan dalam karya terkenal Habis Gelap Terbitlah Terang .
Tidak ada yang salah dengan penghormatan kepada Kartini. Ia memang tokoh penting yang memiliki keberanian intelektual besar pada zamannya.
Namun, dalam konteks Indonesia yang semakin sadar akan pentingnya keadilan sejarah, pertanyaan penting perlu diajukan: benarkah perjuangan perempuan Indonesia hanya dapat direpresentasikan oleh satu tokoh? Apakah sejarah nasional kita terlalu Jawa-sentris sehingga mengabaikan perempuan-perempuan hebat dari wilayah lain Nusantara?
Pertanyaan ini menjadi semakin relevan ketika nama Siti Aisyah We Tenriolle mulai kembali diperbincangkan.
Ia adalah Datu atau Ratu Tanette di Sulawesi Selatan yang memerintah pada 1855–1910, jauh sebelum gagasan emansipasi Kartini dikenal luas di Jawa.
Jika Kartini dikenal melalui gagasan yang tertuang dalam surat, Aisyah We Tenriolle dikenal melalui kebijakan nyata dalam pemerintahan, pendidikan, dan pelestarian warisan intelektual bangsa.
Aisyah We Tenriolle lahir dari lingkungan bangsawan Bugis yang sangat dekat dengan tradisi intelektual.
Ibunya, Colliq Pujié, dikenal sebagai perempuan cendekia yang aktif mengarsipkan dokumen kerajaan dan mendalami sastra Bugis kuno.
| Pembatasan Masa Jabatan Ketua Partai |
|
|---|
| Jamaluddin Jompa, Sang Nakhoda Kembali Menerima Mandat untuk Kemajuan Unhas |
|
|---|
| Nutri-Level dan Dilema Gula: Antara Kesehatan Publik dan Budaya Manis |
|
|---|
| Mengukir Jejak Kartini: Inspirasi Kekuatan dan Kepemimpinan Perempuan di Madrasah |
|
|---|
| Badik Bukan Kekerasan: Analisis Kritis terhadap Penyalahpahaman Nilai Siri’ dalam Praktik Sosial |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Andi-Zulfikar-Darussalam.jpg)