Opini
Perempuan Bugis Seperti Apa? dan Pentingnya Membaca Secara Feminis!
Barangkali ini artikulasi penting untuk melihat mengapa laki-laki Bugis identik dengan passompe, atau perantau.
Dalam teks-teks budaya termasuk naskah La galigo tidak ada pembatasan yang tegas bahwa siri keluarga itu cenderung sebagai nilai untuk perempuan atau laki-laki.
Siri memiliki arti sebagai harga diri, martabat yang mulia, yang menjadi kompas perilaku agar seseorang bertindak jujur, bertanggung jawab, dan tidak merendahkan diri maupun orang lain (Mattulada, 1985).
Penanda manusia seutuhnya atau tau (Zainal Abidin, 1983) dan Christian Pelras (2006) menyebutnya sebagai fondasi moral yang menentukan tindakan dan relasi sosial.
Namun, mengapa beberapa teks Sejarah dan budaya kita cenderung bias gender?
Dari sana kita mengerti bahwa sebenarnya ada struktur dominasi yang bekerja dalam memainkan artikulasi yang bias tersebut.
Dalam analisis gender itulah struktur patriarki.
Sebuah kerangka kekuasaan yang diam-diam menunggangi lokalitas dalam melanggengkan domestifikasi perempuan atas nama siri.
Feminisasi Catatan Historis
Labelisasi perempuan bugis yang malebbiq memang bisa ditemukan pada banyak catatan Sejarah.
Namun, kita juga bisa mendapati beberapa kisah perempuan yang menunjukkan kebijaksanaan dan keberanian.
Salah satunya Adalah We Tenriabeng, dalam penggalan naskah La Galigo.
Pada satu momen Ketika We Tenriabeng melakukan dialog dengan Sawerigading terkait penolakan pernikahan di antara mereka.
Di mana We Tenriabeng menununjukkan penolakannya dengan argumentasi rasional dan bijaksana.
Sementara Sawerigading justru terkesan diselimuti emosi dan perasaannya.
Selain itu, ada juga sosok Besse Kajuara sebagai Raja Perempuan yang dengan kegigihannya melakukan perlawanan terhadap kolonialisme di masanya.
Atau sang cendekia colliq Pujie yang menyalin naskah La Galigo.
Hanya saja memang ada Kesan bahwa Sejarah ini cenderung ditulis dan dikisahkan secara heroic dan maskulin. Itu juga persoalan.
Sebenarnya beberapa perumpamaan bisa bermakna universal apabila ditafsirkan secara feminis, misalnya pattaro nawa-nawa malampe.
Perumpamaan ini bisa ditafsir lebih terbuka bahwa keterampilan semacam itu sangat baik untuk banyak pekerjaan, termasuk pekerjaan publik.
Misalnya saja; ingatan yang baik sangat dibutuhkan seorang pemimpin agar tetap Amanah menjaga kepercayaan publik.
Begitupun representasi simbolik dari istilah macca dan reso sebagai sifat yang bersifat universal, bukan milik laki-laki.
Macca Adalah proses dan akumulasi dari ketekunan dalam belajar.
Sedangkan mareso jelas bisa dilakukan oleh siapa saja tanpa melihat pembedaan jenis kelamin.
Pada titik ini kita bisa merflesikan bahwa persoalannya bukan hanya keberadaan teks budaya melainkan termasuk cara kita memberikan tafsiran.
Hal ini menjadi penting agar budaya tidak lagi menjadi pembatas pengembangan perempuan di ruang publik.
Kita bisa tetap menempatkan perempuan sebagai simbol siri dan malebbiq tanpa harus mengurungnya di ruang domestik.
Sebaliknya, memperluasnya menjadi kesantunan publik, untuk menempatkannya pada nilai yang lebih tinggi.
Pada akhirnya Perempuan Bugis tidak perlu memilih antara ruang domestik atau ruang publik, Ia tentu bisa keduanya.
Paling penting mereka memperjuangkannya, meskipun tugas semacam ini tidak pernah selesai.
Selalu ada tantangan.
Yakin saja.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Sosiolog-Universitas-Negeri-Makassar-UNM-Sopian-Tamrin-0000.jpg)