Opini
Perempuan Bugis Seperti Apa? dan Pentingnya Membaca Secara Feminis!
Barangkali ini artikulasi penting untuk melihat mengapa laki-laki Bugis identik dengan passompe, atau perantau.
Artinya ada kecenderungan kultur semacam ini ingin mebilogiskan yang sosial dan mensosialkan yang biologis.
Harus diakui bahwa produksi wacana budaya bugis terkait perempuan cukup banyak.
Misalnya perempuan disimbolkan juga sebagai “lise kowari, lise jajareng” (isi kamar), “pakkawi” (kain penutup), “ati kalepping” (isi bilik).
Dan problemnya simbol asosiatif dengan citra perempuan malebbiq tersebut, justru cenderung bias gender.
Malebbiq sebagai Kuasa Wacana
Malebbiq bagi Bugis makassar itu, bukan semata simbol. Melainkan manifestasi laku keseharian.
Dalam naskah La Galigo, Malebbiq digambarkan sebagai perangai lemah lembut, santun, dan sederhana (Basiah, 2009).
Malebbiq sebagai laku pada dasarnya adalah baik, paling tidak sebagai perilaku yang menekankan nilai tata krama.
Namun, dibalik asosiasi tersebut menyimpan watak patriarki yang tidak tidak ramah terhadap perempuan.
Di sana ada pembatasan. Ada ruang yang tak boleh dilampaui.
Bahkan dalam naskah La Galigo terdapat penjelasan bahwa Malebbiq cenderung dipahami sebagai mereka yang jarang keluar rumah, sebaliknya mereka yang sering meninggalkan rumah dianggap tidak baik.
Konsekuensinya: perempuan tidak banyak mendapat kesempatan untuk mengakses peluang di ruang publik.
Diperoleh lagi namun lingkungan sosial takkala bercorak patriaskis.
Pada akhirnya Malebbiq menjadi wacana yang beroperasi dalam membatasi ruang Gerak perempuan.
Barangkali ini yang dimaksud Foucault sebagai mekanisme pendisplinan tubuh.
Di mana tubuh mendapatkan pembatasan terkait apa yang wajar, baik dan semestinya diperagakan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Sosiolog-Universitas-Negeri-Makassar-UNM-Sopian-Tamrin-0000.jpg)