Opini
Perempuan Bugis Seperti Apa? dan Pentingnya Membaca Secara Feminis!
Barangkali ini artikulasi penting untuk melihat mengapa laki-laki Bugis identik dengan passompe, atau perantau.
Inilah yang dimaksud sebagai teknologi kepatuhan.
Ketika tubuh terus diawasi (dipanoptifikasi) oleh kuasa wacana di luar dirinya.
Sehingga perempuan kehilangan otoritas atas tubuhnya sendiri, teralienasi.
Pertanyaannya apakah konsekuensi malebbiq itu harus identic dengan aktivitas rumah?
Mengapa hanya perempuan yang dipersonifikasi untuk itu, dan tidak bagi laki-laki?
Malebbiq mestinya melekat pada laku setiap orang, dan terlepas dari jenis kelamin, dan kelas sosialnya termasuk di mana mereka berada.
Malebbiq dapat diperagakan di mana saja, oleh siapa saja dan tentu kapan saja.
Sebagais buah Ia melampui identitas sosial dan ruang itu sendiri.
Bahkan jika malebbiq diperagakan di ruang publik barangkali akan memiliki nilai tanggung jawab kesantunan sosial yang lebih bermakna.
Domestifikasi Perempuan atas nama siri’ Tidak jarang Masyarakat bugis menilai kewibawaan dan martabat keluarga ada pada cerminan perilaku anak perempuannya.
Mereka meyakini bahwa kehadiran anak perempuan sebagai pangkal dari siri keluarga.
Namun bagi saya, itu memiliki konteks dan relevansinya sendiri.
Laki-laki juga menjadi simbol siri’ keluarga dalam konteks yang lainnya.
Barangkali penegasan ini penting agar supaya siri’ sebuah keluarga tidak hanya identic dan dibebankan bagi perempuan semata.
Baik laki-laki maupun perempuan memiliki simbol siri’nya masing-masing bagi keluarganya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Sosiolog-Universitas-Negeri-Makassar-UNM-Sopian-Tamrin-0000.jpg)