Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Krisis Pengangguran Terdidik dan Perubahan Makna Pendidikan

Gelar sarjana dipandang simbol keberhasilan, sekaligus harapan agar anak-anak mereka memiliki masa depan lebih aman dibanding generasi sebelumnya.

Tayang:
Editor: Muh Hasim Arfah
Tribun-timur.com/Dok Pribadi
Dawita Rama, ketua Presidium PMKRI cabang makassar 2023-2024. 

Dawita Rama

Ketua Presidium PMKRI cabang makassar 2023-2024.

TRIBUN-TIMUR.com- Selama bertahun-tahun, pendidikan tinggi di Indonesia selalu ditempatkan sebagai jalan utama menuju kehidupan yang lebih baik. Banyak keluarga percaya bahwa kuliah adalah tiket untuk keluar dari kesulitan ekonomi. Gelar sarjana dipandang sebagai simbol keberhasilan, sekaligus harapan agar anak-anak mereka memiliki masa depan yang lebih aman dibanding generasi sebelumnya. 

Namun hari ini, kenyataan yang dihadapi generasi muda jauh lebih rumit dibanding harapan yang selama ini dibangun. Banyak lulusan perguruan tinggi justru menghadapi kebingungan setelah wisuda. Mereka masuk ke dunia kerja yang penuh persaingan, lapangan pekerjaan formal semakin terbatas, sementara tuntutan hidup terus meningkat. Akibatnya, muncul anggapan bahwa gelar sarjana tidak lagi menjamin masa depan. 

Tetapi persoalan sebenarnya bukan terletak pada gelarnya. Masalah terbesar justru ada pada ketidaksiapan sistem pendidikan dan lingkungan sosial dalam menghadapi perubahan zaman. 

Selama ini, pendidikan sering diarahkan hanya untuk menghasilkan pencari kerja, bukan manusia yang siap menghadapi perubahan. Banyak mahasiswa dibentuk untuk mengejar nilai, lulus tepat waktu, dan mendapatkan pekerjaan formal yang dianggap aman. Sementara kemampuan beradaptasi, keberanian mencoba hal baru, hingga keterampilan membangun peluang sering kali tidak menjadi fokus utama. 

Di sisi lain, masyarakat juga membangun standar keberhasilan yang terlalu sempit. Kesuksesan seolah hanya diukur dari pekerjaan kantoran, jabatan tinggi, atau profesi yang terlihat mapan. Akibatnya, banyak anak muda tumbuh dengan ketakutan terhadap kegagalan sosial. Mereka merasa harus langsung berhasil setelah lulus kuliah. Jika bekerja di luar jurusan, memulai usaha kecil, atau mengambil pekerjaan sederhana, mereka khawatir dianggap gagal oleh lingkungan sekitar. 

Padahal dunia kerja modern sudah berubah total. Hari ini, karier tidak lagi berjalan lurus seperti generasi sebelumnya. Seseorang bisa berpindah bidang berkali-kali, membangun pekerjaan dari internet, menjadi pekerja lepas, atau menciptakan usaha sendiri dari kemampuan yang awalnya dianggap biasa. Banyak profesi baru bahkan tidak pernah diajarkan secara khusus di bangku kuliah. 

Perubahan ini sebenarnya menunjukkan bahwa pendidikan tidak lagi cukup jika hanya berisi teori dan gelar akademik. Generasi muda membutuhkan kemampuan yang lebih fleksibel kemampuan belajar cepat, membangun relasi, membaca peluang, menyelesaikan masalah, dan bertahan dalam ketidakpastian. 

Karena itu, penting untuk mengubah cara pandang terhadap pekerjaan. Pekerjaan bukan lagi sekedar soal status sosial, melainkan tentang bagaimana seseorang mampu bertahan dan berkembang di tengah perubahan ekonomi yang cepat. Dalam situasi seperti sekarang, keberanian memulai sering kali jauh lebih penting dibanding terlalu lama menunggu pekerjaan yang dianggap ideal. 

Banyak orang berhasil bukan karena langsung mendapatkan pekerjaan impian, tetapi karena mau bergerak dari kesempatan kecil. Ada yang memulai dari bisnis rumahan, menjadi pekerja proyek, freelancer, membuka usaha digital, atau mengambil pekerjaan apa pun demi terus berkembang. Dari proses itulah pengalaman, mental, dan jaringan perlahan terbentuk. 

Sayangnya, sebagian generasi muda justru terbebani oleh ekspektasi sosial yang terlalu tinggi. Mereka takut terlihat gagal, takut memulai dari bawah, bahkan takut mencoba pekerjaan yang tidak sesuai dengan latar pendidikan. Akibatnya, tidak sedikit yang akhirnya kehilangan waktu hanya untuk menjaga gengsi. 

Padahal kenyataannya, dunia tidak pernah benar-benar peduli pada seberapa panjang gelar seseorang. Dunia lebih menghargai kemampuan menyelesaikan masalah, kemauan belajar, dan keberanian menghadapi tantangan. 

Di sisi lain, negara juga perlu mengambil peran yang lebih serius. Pertumbuhan jumlah lulusan perguruan tinggi harus diiringi dengan pembangunan lapangan kerja, dukungan terhadap UMKM, pelatihan keterampilan baru, dan akses ekonomi yang lebih merata. Pendidikan tinggi juga perlu lebih dekat dengan kebutuhan nyata masyarakat dan perkembangan industri. 

Kampus tidak cukup hanya menjadi tempat mengejar ijazah. Kampus harus menjadi ruang pembentukan karakter dan keberanian menghadapi kehidupan. Mahasiswa perlu dipersiapkan untuk menghadapi kenyataan bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana. 

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved