Opini Mahmud Suyuti
MTQ: Membumikan Wahyu dan Membuka Pintu Langit
MTQ juga bukan sekedar lomba tetapi untuk meningkatkan kecintaan kepada kitab suci sebagai mukjizat terbesar dari langit bagi umat Islam.
MTQ juga bukan sekedar lomba tetapi untuk meningkatkan kecintaan kepada kitab suci sebagai mukjizat terbesar dari langit bagi umat Islam.
Tilawah Terdengar di Langit
Saya pribadi sebagai salah satu dewan hakim MTQ dan STQH sejak tahun 2019 di Tanah Toraja sampai tahun kemarin di MTQ ke-33 tingkat provinsi di Kabupaten Takalar ikut serta dengan khusyuk menyimak cabang tilawatil Qur’an yang terjadwal di setiap malam sampai larut dalam suasana fana yakni kondisi spiritual yang hanya terasa bersama Allah SWT.
Seseorang dalam maqam fana dalam dunia tasawuf merasakan dirinya berada di langit bersama kehadirat-Nya semata. Suasana ego dan keakuan sirna digantikan dengan sifat-sifat ketuhanan.
Maqam ini dicapai karena adanya musabaqah yang berpindah ke mujahadah, riyadhah dan terakhir adalah muraqabah atau taqarrub Ilallah.
Di arena MTQ ke-36 tahun ini di Maros khusus untuk cabang tilawah al-Qur’an sesuai jadwal sebagaimana tahun-tahun sebelumnya dilaksanakan pada setiap malam (bahkan mungkin) sampai dini hari dan berbagai hadis seperti riwayat dari Usaid bin Khudhair bahwa jika al-Qur’an dibaca pada malam hari maka terdengar oleh seluruh makhluk di langit.
Tilawah al-Qur'an di malam hari adalah ibadah yang sangat dianjurkan, disukai Allah SWT yang dengan bacaan Al-Qur’an tersebut akan menenangkan jiwa (tathmainnul qulub), kondisi batin yang damai dan tenteram sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Rad/13: 28.
Membaca al-Qur’an 10 ayat setiap malam para Malaikat turun dari langit ke bumi dan menampakkan cahanya seperti payung (HR Muslim dari Bara bin Azib) dan jika berulang-ulang dibaca dengan suara indah menjadi sakinah (ketenangan) bagi yang membaca dan yang mendengarnya (Bukhari nomor 5018).
Riwayat lain menjelaskan bahwa bagi setiap orang yang membaca dan mendengar 100 ayat setiap hari dan malamnya dicatat sebagai ahli ibadah.
Jadi pembacaan ayat-ayat al-Qur’an di MTQ merupakan suatu sarana dan wahana untuk membuka pintu-pintu langit agar keberkahan-Nya turun ke bumi.
Dengan demikian MTQ bukan sekedar lomba, bukan sekedar musabaqah biasa melainkan ajang prestise yang bisa mengetuk pintu langit. MTQ bukan juga sekedar meraih prestasi untuk membumikan al-Qur’an tetapi aurahnya dapat menembus ke arasy karena kalam langit ini turun dari lauhil mahfudz.
MTQ selain tradisi untuk menghidupkan kecintaan al-Qur’an, memuliakan kalam Ilahi juga untuk mencetak generasi Qur’ani sampai ketingkat nasional dan kedunia internasional, namun yang lebih penting tentunya adalah generasi Qur’ani yang di akhirat kelak dijanjikan kemuliaan tinggi.
Khusus di dunia bagi pembaca dan penghafal al-Qur’an di MTQ diberikan hadiah sebagai bentuk penghargaan.
Untuk tingkat provinsi Sulawesi Selatan biasanya yang juara setiap cabang lomba diberi hadiah melebihi kisaran 50 juta.
Khusus di akhirat kelak bagi penghafal al-Qur’an diberikan hadiah mahkota cahaya.
Hadiah mahkota ini juga diberikan kepada kedua orangtua bagi anak-anak yang hafidz al-Qur’an.
Selain itu, mereka di akhirat dijanjikan kemuliaan tinggi, diberikan syafaat dan kedudukan mulia di surga.
Wallahul Muwaffiq Ila Aqwamit Thariq.
(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2025-12-05-Mahmud-Suyuti.jpg)