Opini Mahmud Suyuti
MTQ: Membumikan Wahyu dan Membuka Pintu Langit
MTQ juga bukan sekedar lomba tetapi untuk meningkatkan kecintaan kepada kitab suci sebagai mukjizat terbesar dari langit bagi umat Islam.
Oleh: Machmud Suyuti
Dewan Hakim MTQ XXXIV Tahun 2026 Tingkat Provinsi Sulawesi Selatan
TRIBUN-TIMUR.COM - MTQ (Musabaqah Tilawatil Qur’an) ke-34 tahun 2026 tingkat Sulawesi Selatan dilaksanakan selama sepekan di Kabupaten Maros mulai hari ini (Sabtu /11/04) dan penutupan Sabtu mendatang (18/04).
MTQ merupakan festival seni membaca al-Qur’an mencakup tajwid, seni suara, hafalan dan pemahaman terhadap wahyu Ilahi.
Selain itu MTQ menjadi sarana membumikan amaliah al-Qur’an melalui tafsir, seni kaligrafi dan karya tulis ilmiah al-Qur’an yang turut diperlombakan di ajang MTQ.
MTQ menjadi ajang membumikan wahyu, yakni menanamkan nilai-nilai Qur’ani ke dalam realitas kehidupan dan mengupayakan agar pesan-pesan wahyu tersebut dapat dipahami, diyakini untuk diamalkan secara merata masyarakat.
MTQ ini adalah pesan langit yang pertamakali diterima Nabi SAW melalui wahyu Iqra, perintah membaca, menelaah, mendalami, meneliti al-Qur’an.
Betapa pentingnya MTQ itu, maka Iqra dengan derivasinya disebut berulang-ulang sampai 70 kali dalam beberapa surah.
Merespon Makna MTQ
Musabaqah artinya mendahului, saling berpacu, berlomba.
Baca juga: Jadwal Lengkap MTQ Sulsel di Maros
Dalam konteks MTQ musabaqah diartikan kompetisi untuk kebaikan sebagaimana dipahami dalam ayat Fastabiqul Khairat (QS. Al-Baqarah/1:148 dan QS. Al-Maidah/5: 48) yang artinya maka berlomba-lombalah kalian dalam mengerjakan kebaikan.
Ayat tersebut menganjurkan akan bermusabaqah dalam amal shaleh melalui bacaan al-Qur’an dan tidak ada hubungannya dengan perlombaan lain seperti kompetisi kecantikan, miss Indonesia, miss universe, beauty pageant dan kejuaraan serupa.
Namun demikian tidak berarti agama Islam tidak membolehkan kompetisi lain yang bisa sepadan dengan makna hakikat musabaqah untuk kemaslahatan seperti lomba memanah, lomba memacu kuda, dan keolaragaan lainnya untuk penguatan pisik serta pengolahan otak.
Nabi SAW dalam banyak hadis memerintahkan untuk berlatih memanah untuk melatih konsentrasi.
Nabi SAW juga dalam riwayat Bukhari Muslim ikut bermusabaqah mengendarai kuda dalam dua etafe dimulai dari (start) Hifyah dan berakhir (finish) di Saniyyat al-Wada kurang lebih enam mil jaraknya atau sekira 10 kilometer.
Berdasarkan hadis-hadis itulah maka Nabi SAW sangat menganjurkan musabaqah apalagi MTQ yang bertujuan membumikan al-Qur’an agar lebih dipahami untuk diamalkan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2025-12-05-Mahmud-Suyuti.jpg)