Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

JK Bicara Fakta, Bukan Menyerang Agama

Di Poso dan Ambon, yang ia temui bukan orang-orang yang sedang duduk diam merenungi ajaran agama.

Tribun-timur.com/Ist
OPINI - Yusran Pendidik SMA Islam Athirah Makassar 

Oleh: Yusran
Pendidik SMA Islam Athirah Makassar

TRIBUN-TIMUR.COM - Kadang, masalah bukan pada apa yang dikatakan, tapi pada bagaimana kita memilih untuk mendengarnya.

Pernyataan Jusuf Kalla di kampus UGM itu, kalau dipikir-pikir, sebenarnya tidak rumit.

Tapi entah kenapa, ia seperti dilempar ke ruang gema dipantulkan ke sana-sini, ditarik ke berbagai arah, sampai maknanya jadi terasa berbeda dari yang awalnya dimaksud.

JK bukan sedang berdiri sebagai ahli tafsir.

Ia tidak sedang membuka kitab, lalu mengurai makna ayat.

Ia berbicara sebagai seseorang yang pernah berada di tengah situasi yang tidak ideal, situasi yang jauh dari ruang ibadah, jauh dari teks yang dibaca dengan tenang.

Ia bicara sebagai orang yang melihat langsung bagaimana konflik bekerja di lapangan, bagaimana manusia bisa berubah ketika identitas mereka dipertaruhkan.

Di Poso dan Ambon, yang ia temui bukan orang-orang yang sedang duduk diam merenungi ajaran agama.

Yang ia hadapi adalah massa yang sudah bergerak, yang emosinya sudah naik, yang pikirannya sudah dipenuhi rasa takut, marah, dan balas dendam.

Dalam situasi seperti itu, agama sering kali tidak lagi hadir sebagai penyejuk.

Ia berubah fungsi.

Kalau mau sedikit meminjam istilahnya Hannah Arendt, agama bisa jatuh menjadi alat identitas pembatas yang kaku antara “kita” dan “mereka”.

Bukan lagi soal nilai, tapi soal posisi.

Dan ketika posisi itu terancam, semua hal bisa dipakai untuk mempertahankannya, termasuk istilah-istilah yang sebenarnya sakral.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved