Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Mengapa Ramadhan Terasa Begitu Cepat? 

Para ahli sharaf membagi bentuk jamak ke dalam kategori jamak qillah dan jamak katsrah.

Editor: Sudirman
Tribun-timur.com/ist
OPINI - Dr. Haniah, Lc., M.A. Ketua Prodi Pendidikan Bahasa Arab Program Magister Pascasarjana UIN Alauddin Makassar  & Alumni PP DDI Mangkoso & Univ. Al Azhar Mesir 

Ia merasa kesempatan masih banyak. Tetapi ketika ia memandang Ramadhan sebagai أيامًا معدودات, sebagai hari-hari yang sedikit dan terhitung, yang lahir justru kesadaran untuk bergerak cepat dalam kebaikan.

Dengan demikian, pilihan diksi Al-Qur’an tidak hanya indah, tetapi juga edukatif. Ia mendidik manusia agar tidak tertipu oleh rasa “masih ada waktu”.

Pada akhirnya, frasa أيامًا معدودات  mengajarkan dua hal besar. Pertama, syariat puasa disampaikan dengan bahasa yang menenteramkan, bukan memberatkan.

Kedua, justru karena waktunya singkat dan terbilang, setiap hari Ramadhan harus diperlakukan sebagai kesempatan yang sangat berharga.

Inilah mungkin salah satu rahasia mengapa Ramadhan selalu terasa cepat: karena Al-Qur’an sendiri membingkainya sebagai hari-hari yang sedikit, bukan masa yang panjang.

Maka, ketika kita berkata bahwa Ramadhan berlalu begitu cepat, sesungguhnya Al-Qur’an telah lebih dahulu menanamkan rasa itu dalam pilihan katanya.

Melalui bentuk أيام  pada pola أفعال  sebagai salah satu ṣīghat jamak qillah, lalu diperkuat oleh kata معدودات, Al-Qur’an mengajarkan bahwa puasa Ramadhan adalah ibadah agung yang dijalani dalam waktu yang singkat, terukur, dan sangat berharga.

Yang singkat itu memang mudah pergi, tetapi justru karena itulah ia tidak boleh disia-siakan.

Ramadhan bukan sekadar bulan untuk dilalui, melainkan musim ruhani yang harus disadari, dijaga, dan dimaksimalkan sebelum benar-benar meninggalkan kita.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved