Opini Amir Muhiddin
Donald Trump, Aku Tidak Takut
Perdana Menteri Pedro Sanchez menyebut perang itu ilegal dan melanggar hukum internasional.
Oleh: Amir Muhiddin
Sekretaris Devisi Politik Pemerintahan ICMI Sulsel
TRIBUN-TIMUR.COM - Iran memang luar biasa, bisa berkata “tidak” di tengah ancaman bertubi-tubi dari Amerika Serikat, akan membom berbagai pasilitas Iran jika gagal dalam perundingan tahap kedua.
Sekali lagi Iran mengatakan tidak, dan dia buktikan itu dengan tidak mengirim utusannya ke Pakistan sampai hari berakhirnya kesepakatan gencatan senjata Rabu malam, 22 April 2026 lalu.
Sebaliknya, Donald Trump dilaporkan telah memperpanjang gencatan senjata tanpa batas waktu yang ditentukan.
Alasannya guna menghindari eskalasi konflik lebih lanjut, padahal dia takut karena ternyata Iran melawan, bahkan juru bicara Markas Pusat Khatam Anbiya, Ebrahim Zoplfhagari mengatakian bahwa Iran berada dalam kondisi siaga penuh dan siap melancarkan serangan balasan jika AS kembali melakukan agresi.
Seperti perundingan pertama yang dilaksanakan di Islamabat 6 Februari 2026 lalu, rencana perundingan tahap kedua pun dipredikasi mengalami kegagalan, salah satu penyebabnya karena Donald Trump dimata pemimpin Iran tidak punya kepercayaan lagi, tidak bisa dipegang kata dan ucapannya, bahkan di dalam negerinya pun disebut sebagai munafik.
Contoh terakhir sebagaimana dikemukakan oleh Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei, bahwa AS sedang melakukan “permainan menyalahkan” (blame game) dan tidak menunjukkan iktikad baik karena tetap melakukan serangan atau tekanan selama proses diplomasi berlangsung.
Seperti diketahui bahwa di tengah gencatan senjata, Angkatan Laut AS melakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan mereka di Selat Hormuz, Iran menganggap ini sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata.
Iran menuntut blokade tersebut dicabut sebelum perundingan dilanjutkan.
Bukan hanya itu, Iran juga menolak ke Islamabad karena tuntutan yang diajukan Washington tidak realistis dan telah melanggar kesepakatan yang sedang berjalan.
Media resmi Iran IRNA, menyebutkan bahwa AS mengajukan permintaan yang “berlebihan, tidak logis, dan tidak realistis” terutama terkait program nuklir dan rudal Iran.
Donald Trump kini pusing tujuh keliling sebab semua sudah dia lakukan agar Iran tunduk dan mengikuti keinginan AS.
Di tengah kebingungan itu, Trump juga dihadapkan pada masalah dalam negerinya, dimana sebagian besar rakyatnya bersuara agar perang dihentikan, rakyat AS sangat merasakan akibat dari perang itu, lalu semakin hari semakin sadar bahwa perang tidak jelas orientasinya, untuk apa dan untuk siapa.
Meski demikian Trump tetap jalan, seperti pepatah, “Biar Anjing Menggonggong Kafilah tetap berlalu” Oleh sebab itu banyak pengamat mengatakan bahwa Trump telah menghianati rakyatnya.
Padahal suara rakyat adalah suara Tuhan, begitu tagline Golkar di Indonesia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Amir-Muhiddin-75.jpg)