Opini
Mengapa Ramadhan Terasa Begitu Cepat?
Para ahli sharaf membagi bentuk jamak ke dalam kategori jamak qillah dan jamak katsrah.
Artinya, secara bentuk kata, أيام sudah memunculkan nuansa “jumlah yang sedikit” atau “terbatas”.
Maka ketika Al-Qur’an menyebut puasa dengan ungkapan أيامًا, pilihan itu bukan hanya menunjukkan makna jamak, tetapi juga menghadirkan kesan bahwa masa puasa itu tidak perlu dibayangkan sebagai sesuatu yang panjang dan memberatkan.
Nuansa tersebut semakin diperkuat oleh kata berikutnya sebagai sifat, yaitu معدودات. Secara leksikal, kata ini berarti “terbilang”, “terhitung”, atau “mudah dihitung” yang juga merupakan pola jamak qillah yaitu pola jamak dengan penambahan alif dan ta.
Dalam gramatikal Arab seharusnya kata Ayyam disifatkan dengan pola mufrad muannats (Tunggal feminim) yaitu kata معدودة, namun pada ayat ini disifatkan dengan jamak qillah.
Mengapa demikian? Jadi, frasa أيامًا معدودات tidak sekadar berarti “hari-hari tertentu”, tetapi lebih dalam lagi mengesankan “hari-hari yang sedikit dan terhitung”.
Dari segi stilistika, ini adalah bentuk ungkapan yang sangat lembut. Al-Qur’an menyampaikan kewajiban besar—yakni puasa Ramadhan—dengan bahasa yang menenangkan, bukan menakutkan.
Ia seakan berkata kepada manusia: puasa itu bukan beban yang tak berujung; ia hanya beberapa hari yang bisa dihitung dan dilalui.
Pembacaan ini sejalan dengan penjelasan para ahli gramatika Arab. Dalam Syarḥ al-Mufaṣṣal, Ibnu Ya‘īsy menjelaskan bahwa bentuk-bentuk tertentu dalam jamak memang diletakkan untuk menunjukkan jumlah yang sedikit.
Di antara pola yang dikenal dalam rumpun jamak qillah adalah أفعلة، وأفعل، وأفعال، وفِعلة kata jamak yang mendapat penambahan waw dan nun (Jamak mudzakar) atau alif dan ta (Jamak muannats).
Penjelasan ini penting, karena menunjukkan bahwa sistem jamak dalam bahasa Arab bukan hanya persoalan bentuk, tetapi juga membawa nuansa semantik tertentu.
Dengan kata lain, pemilihan bentuk jamak dapat memengaruhi rasa makna yang diterima pembaca atau pendengar.
Karena itu, penggunaan kata أيام pada pola أفعال dalam ayat puasa bukan sekadar pilihan gramatikal, melainkan juga pilihan stilistik.
Secara morfologis, ia memuat nuansa qillah (sedikit); secara semantis, ia diperkuat oleh kata معدودات; dan secara retoris, ia berfungsi meringankan persepsi manusia terhadap kewajiban puasa.
Di sinilah keindahan bahasa Al-Qur’an tampak nyata: kewajiban tetap hadir dengan penuh wibawa, tetapi cara penyampaiannya diliputi rahmat dan kebijaksanaan.
Dari sudut ini, kita dapat memahami mengapa Ramadhan terasa cepat. Mungkin karena sejak awal Al-Qur’an sendiri membingkainya sebagai أيامًا معدودات. Sesuatu yang dipersepsikan sebagai “hari-hari yang terbilang” akan terasa singkat, apalagi jika diisi dengan intensitas ibadah yang tinggi.
| Katto Bokko: Meneropong Masa Depan Petani Muda Indonesia |
|
|---|
| Ketika Laki-laki Memilih Diam: Kerentanan Bunuh Diri dalam Perspektif Emile Durkheim |
|
|---|
| Padepokan Saung Taraju Jumantara dan Rapuhnya Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan |
|
|---|
| Kesadaran Kritis: Fondasi yang Lemah dalam Demokrasi Indonesia |
|
|---|
| Makassar Harus Menyelesaikan Sampahnya Sendiri, Dimulai dari Lorong |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2026-03-20-Dr-Haniah-Lc-MA.jpg)