Opini
Mengapa Ramadhan Terasa Begitu Cepat?
Para ahli sharaf membagi bentuk jamak ke dalam kategori jamak qillah dan jamak katsrah.
Ramadhan bukan sekadar rentang waktu biasa. Siangnya diisi puasa, lisannya dibasahi tilawah dan zikir, tangannya digerakkan untuk sedekah, malamnya dihiasi tarawih dan qiyam.
Ketika waktu diisi dengan intensitas spiritual seperti itu, ia sering berlalu dengan cepat dalam rasa, walaupun bekasnya panjang dalam jiwa.
Di sisi lain, frasa ini juga mengandung pelajaran psikologis yang mendalam.
Manusia umumnya lebih kuat menjalani sesuatu ketika ia tahu bahwa sesuatu itu memiliki batas yang jelas. Kelelahan terasa lebih ringan ketika ujungnya tampak.
Dalam konteks puasa, kata معدودات membangun kesadaran bahwa ibadah ini memiliki batas yang pasti. Ia bukan keadaan abadi, melainkan fase latihan rohani yang akan selesai.
Maka yang dituntut dari manusia bukan keluhan, melainkan kesungguhan untuk mengisi masa yang terbatas itu sebaik-baiknya.
Justru di sinilah ironi kita hari ini. Banyak orang memasuki Ramadhan dengan daftar target yang besar: khatam Al-Qur’an, memperbanyak sedekah, menjaga qiyam al-lail, memperbaiki akhlak, menata hidup, dan memperbanyak doa.
Namun karena merasa Ramadhan masih panjang, sebagian orang menunda di awal.
Hari-hari pertama terasa longgar, pertengahan bulan dianggap masih cukup luas, lalu tanpa terasa sepuluh malam terakhir datang dan bulan suci pun selesai.
Ketika itu terjadi, frasa أيامًا معدودات sesungguhnya tampil sebagai teguran halus: sejak awal Allah sudah memberi tahu bahwa Ramadhan hanyalah hari-hari yang terbilang; mengapa manusia memperlakukannya seolah-olah waktu itu masih sangat panjang?
Karena itu, pembacaan terhadap ayat ini melalui teori jamak qillah bukan sekadar latihan morfologis, melainkan juga jalan untuk membaca filsafat waktu dalam Al-Qur’an. Yang sedikit tidak berarti remeh.
Justru karena sedikit, ia harus dijaga. Yang singkat tidak berarti kecil nilainya.
Justru karena singkat, ia menuntut kesadaran yang lebih tinggi. Ramadhan terasa cepat bukan hanya karena aktivitas hidup modern semakin padat, tetapi juga karena wahyu sendiri membingkainya sebagai musim ibadah yang terbatas.
Ia tidak datang untuk tinggal lama, melainkan untuk menguji siapa yang paling siap memanfaatkan waktu yang singkat itu.
Di sini pula tampak perbedaan mendasar antara persepsi qillah dan ilusi katsrah. Ketika seseorang memandang Ramadhan sebagai waktu yang masih panjang, ia cenderung menunda amal.
| Katto Bokko: Meneropong Masa Depan Petani Muda Indonesia |
|
|---|
| Ketika Laki-laki Memilih Diam: Kerentanan Bunuh Diri dalam Perspektif Emile Durkheim |
|
|---|
| Padepokan Saung Taraju Jumantara dan Rapuhnya Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan |
|
|---|
| Kesadaran Kritis: Fondasi yang Lemah dalam Demokrasi Indonesia |
|
|---|
| Makassar Harus Menyelesaikan Sampahnya Sendiri, Dimulai dari Lorong |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2026-03-20-Dr-Haniah-Lc-MA.jpg)