Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Mudik, Reset Sosial Manusia Modern

mudik bukan urusan pinggiran budaya. Ia adalah respons sosial atas cara hidup urban yang kian mendominasi.

Tayang:
Editor: Muh. Abdiwan
TRIBUN-TIMUR.COM
Yusran, S.Pd., M.Pd.  Guru Sosiologi SMA Islam Athirah Makassar 

Oleh: Yusran – Pendidik SMA Islam Athirah Makassar


TRIBUN-TIMUR.COM - Setiap tahun kita mengutuk hal yang sama: tiket mahal, jalan macet, pelabuhan sesak, bandara penuh. Tetapi setiap tahun pula jutaan orang tetap pulang. Pertanyaannya sederhana: mengapa manusia modern, yang konon makin rasional dan efisien, justru rela menempuh perjalanan yang melelahkan?

Pada Lebaran 2026, Kementerian Perhubungan memprakirakan pergerakan masyarakat mencapai 143,91 juta orang atau sekitar 50,60 persen dari total penduduk Indonesia. Dalam penjelasan lain, Kemenhub juga menyebut sekitar 66 persen responden bepergian untuk mudik dan bersilaturahmi.

Angka sebesar itu memberi satu pesan penting: yang dicari orang saat mudik bukan sekadar alamat rumah, melainkan pemulihan diri. 
Isu ini penting, bukan hanya bagi keluarga yang hendak pulang, tetapi bagi masyarakat luas.

Data Long Form Sensus Penduduk 2022 menunjukkan sekitar 155,5 juta orang tinggal di wilayah perkotaan, lebih banyak daripada sekitar 120,25 juta di perdesaan.

Proyeksi BPS juga menunjukkan penduduk urban Indonesia mencapai 60 persen pada 2025, sementara Sulawesi Selatan diproyeksikan menyentuh 49,8 persen. Artinya, semakin banyak warga hidup dalam ritme kota: cepat, kompetitif, padat, dan sering kali anonim.

Dalam konteks itu, mudik bukan urusan pinggiran budaya. Ia adalah respons sosial atas cara hidup urban yang kian mendominasi. 
Kota memang menjanjikan mobilitas, tetapi sering gagal memberi rasa utuh.

Di kota, manusia mudah direduksi menjadi fungsi: pegawai, kurir, driver, admin, mahasiswa, target penjualan. Nilai seseorang diukur dari performa, produktivitas, dan kecepatan merespons. Waktu habis di jalan, energi habis di pekerjaan, perhatian habis untuk bertahan.

Kita punya banyak kontak, tetapi tidak selalu punya kedekatan. Kita ramai, tetapi sering kesepian. Karena itu, mudik bukan sekadar bepergian. Ia adalah jeda sosial yang memungkinkan seseorang berhenti menjadi mesin dan kembali menjadi manusia.

Dari sudut pandang sosiologi, mudik bekerja sebagai ritual reintegrasi. Orang pulang bukan hanya untuk tidur lebih nyenyak atau makan lebih enak, melainkan untuk masuk kembali ke lingkungan yang mengenalnya sebelum ia menjadi CV, seragam, dan nomor rekening.

Di kampung, seseorang masih diingat sebagai anak siapa, cucu siapa, tetangga siapa, atau teman sepermainan yang dulu berlarian di lorong yang sama. Pengakuan semacam ini tidak kecil nilainya.

Manusia tidak hidup dari upah saja; ia juga membutuhkan rasa diakui, ditempatkan, dan dihubungkan dengan asal-usulnya.

Di titik inilah kata “restu” menjadi sangat penting. Restu bukan hanya gestur religius saat mencium tangan orang tua pada pagi Lebaran. Restu adalah bentuk pengesahan moral bahwa hidup yang kita jalani di kota belum tercerabut dari akar.

Banyak orang bekerja keras di Makassar, Jakarta, atau kota-kota tambang dan industri, tetapi tetap merasa ada yang belum selesai sebelum pulang, duduk di ruang tamu orang tua, menziarahi makam keluarga, dan mendengar kalimat sederhana: “Hati-hati di rantau.”

Kalimat itu tampak biasa, tetapi daya pulihnya besar. Ia mengembalikan keyakinan bahwa hidup bukan sekadar soal berhasil, melainkan juga soal layak dan direstui.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved