Opini
Dari Guru Honorer ke Dosen: Melihat Pendidikan dari Dua Dunia
Sebagai guru honorer, saya pernah memahami bagaimana rasanya bekerja dengan penuh tanggung jawab tetapi tanpa kepastian yang layak.
Oleh: Nur Afiaty Mursalim
Dosen Prodi D4 Promosi Kesehatan FIKK UNM
TRIBUN-TIMUR.COM - Saya pernah berdiri di dua ruang pendidikan yang berbeda. Ruang pertama adalah ruang yang akrab dengan ketidakpastian: menjadi guru honorer.
Ruang kedua adalah ruang akademik kampus yang dipenuhi diskusi tentang masa depan bangsa, bonus demografi, inovasi, dan pembangunan manusia: menjadi dosen.
Di antara keduanya, saya belajar satu hal penting, pendidikan di Indonesia sering kali berjalan di atas idealisme individu, bukan di atas sistem yang benar-benar kokoh.
Sebagai guru honorer, saya pernah memahami bagaimana rasanya bekerja dengan penuh tanggung jawab tetapi tanpa kepastian yang layak.
Datang pagi, mengajar dengan sungguh-sungguh, mendampingi siswa, menyusun administrasi, hingga ikut membangun berbagai kegiatan sekolah, tetapi di akhir bulan menerima honor yang bahkan kadang sulit disebut sebagai upah yang manusiawi.
Ironisnya, profesi yang selalu disebut “pahlawan tanpa tanda jasa” justru sering dibiarkan hidup dalam ketidakjelasan.
Di ruang-ruang pendidikan dasar dan menengah, banyak guru bertahan bukan karena sistem mendukung mereka, tetapi karena mereka terlalu mencintai pekerjaannya untuk pergi
meninggalkannya.
Ada yang mengajar sambil mencari pekerjaan tambahan. Ada yang harus membagi energi antara pengabdian dan kebutuhan hidup.
Ada pula yang perlahan kehilangan semangat, bukan karena tidak peduli pada muridnya, tetapi karena terlalu lama hidup dalam ketidakpastian.
Ketika akhirnya saya berada di lingkungan kampus sebagai dosen, saya melihat wajah pendidikan yang berbeda, tetapi dengan persoalan yang ternyata masih serupa.
Kampus dipenuhi berbagai gagasan besar tentang perubahan sosial, kesehatan masyarakat, transformasi digital, hingga penciptaan generasi unggul.
Seminar, diskusi, dan berbagai slogan tentang masa depan pendidikan terdengar begitu optimistis.
Namun di saat yang sama, saya menyadari bahwa banyak persoalan mendasar dalam dunia pendidikan masih belum benar-benar selesai.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2026-04-07-Nur-Afiaty-Mursalim.jpg)