Opini
Muhasabah ke-28: Menjadi Kaya, atau Menjadi Mulia
Cerita ini adalah sebuah kisah nyata yang pernah diceritakan langsung oleh Syekh Ratib An-Nabulsiy.
Kadang, lebih dari itu, seperti ayah bagi anak-anak yang jemputannya terlambat datang.
Ia bekerja di sekolah.
Menjaga sekolah.
Merawat sekolah.
Tetapi ironisnya, untuk menyekolahkan anak-anaknya sendiri, ia harus berjuang mati-matian.
Sore hari, ketika pagar sekolah ditutup, Ahmad pulang ke rumah kecilnya.
Di sanalah kehidupan yang sesungguhnya menunggu.
Seorang istri yang setia.
Tiga orang anak yang sedang tumbuh dengan kebutuhan yang tak pernah ikut memahami keadaan.
Di depan sekolah itu pula, istrinya membuka warung kecil.
Gorengan. Es teh. Mi instan. Jajanan sederhana untuk anak-anak yang lapar sepulang belajar.
Warung itu kecil. Keuntungannya lebih kecil lagi.
Penghasilan Ahmad dan istrinya tidak pernah benar-benar cukup.
Setiap hari, ada uang jajan anak.
Ada kebutuhan makan lima orang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Oleh-Salman-Ahmad-Alumnus-IMMIM-Pakar-Ikatan-Alumni-Timur-Tengah.jpg)