Opini
Fenomena Food Waste MBG
Pengelolaan limbah makanan yang buruk menimbulkan bahaya lingkungan yang serius.
Pengelolaan limbah makanan yang buruk menimbulkan bahaya lingkungan yang serius.
Timbunan sampah makanan akan menghasilkan cairan yang disebut dengan lindi (leachate) yaitu limbah cair yang meresap ke dalam tanah dan mencemari sumber air di sekitarnya.
Beberapa estimasi menunjukkan potensi sisa makanan (food waste) dari program MBG ini bisa mencapai angka yang sangat masif (estimasinya mencapai jutaan ton per tahun secara nasional jika tidak dikelola).
Kajian Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) 2024 menunjukkan sisa makanan dari program MBG mencapai 1,1 -1,4 juta ton per tahun.
Ironisnya, dari jumlah tersebut, 451 – 603 ribu ton di antaranya merupakan edible food atau makanan yang sebenarnya masih bisa dikonsumsi (https://theconversation.com).
Indonesia menghadapi beberapa tantangan dalam implementasi program makan di sekolah.
Kita berharap dan ingin memastikan generasi masa depan tumbuh sehat dengan akses gizi yang cukup, sekaligus punya kesadaran kolektif terhadap kelestarian lingkungan.
Program MBG diharapkan tidak sekadar memberikan kenyang, melainkan harus mewujudkan praktik pangan berkelanjutan yang mendidik dan menjaga ekosistem.
Keberhasilan program makan sekolah ini menuntut strategi menyeluruh yang mengintegrasikan aspek nutrisi, edukasi, dan partisipasi komunitas.
Kita perlu belajar dengan Jepang. Berbekal program Shokuiku, Jepang mengintegrasikan pendidikan gizi dengan pengelolaan limbah yang efektif di sekolah.
Siswa tidak hanya dituntut menghabiskan makanan, tetapi juga diajarkan nilai budaya untuk tidak membuang makanan.
Sisa makanan yang ada kemudian dipilah dan diolah kembali, meminimalkan sampah sekaligus membentuk karakter disiplin lingkungan.
Dengan demikian, MBG bisa menjadi simbol keberhasilan gizi sekaligus bukti komitmen terhadap keberlanjutan lingkungan.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Andi-Iqbal-Burhanuddin-Dosen-Peserta-PKP-PMDSU-2025-di-Jepang.jpg)