Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Fenomena Food Waste MBG

Pengelolaan limbah makanan yang buruk menimbulkan bahaya lingkungan yang serius.

Tayang:
Tribun-timur.com
TRIBUN OPINI - Prof Andi Iqbal Burhanuddin Dosen Peserta PKP-PMDSU-2025 di Jepang. 

Oleh: Andi Iqbal Burhanuddin

TRIBUN-TIMUR.COM - Akhir-akhir ini program Makan Bergizi Gratis (MBG), sebuah langkah strategik dalam meningkatkan kualitas SDM Indonesia dalam mencetak generasi emas yang dikemas oleh Presiden Prabowo Subianto terus memicu perdebatan di ruang publik.

Selain masalah isu mutu makanan yang kurang layak,  keracunan hingga masalah anggaran, potensi program tersebut membuka celah korupsi, nepotisme tata kelola dan kualitas pelaksanaannya terus diperbincangkan.

MBG adalah sebuah kebijakan visioner untuk membantu anak-anak, khususnya dari keluarga kurang mampu, agar tetap mendapat asupan gizi di sekolah dan program tersebut telah lama berlangsung di beberapa negara seperti Brasil, Finlandia, Italia, Korea Selatan dan beberapa negara lainnya.

Ingris bahkan telah memiliki program makan siang gratis di sekolah selama 100 tahun terakhir.

Di dunia pendidikan, makan siang bukan sekadar urusan mengisi perut, melainkan cerminan filosofi negara dalam membangun masa depannya.

Jepang misalnya yang telah memulai program makan siang gratis yaitu kyushoku dimulai sejak tahun 1889 meski secara resmi dan melembaga dan dalam Undang-undang Makan Siang di Sekolah kemudian diterapkan pada 1954 untuk menyiapkan makan siang bagi semua siswa di Jepang.

Kini fokus utamanya bukan sekadar nutrisi, melainkan pembentukan karakter dan pelaksanan kurikulum yang disebut Shokuiku (pendidikan pangan).

Jepang yang sudah memiliki fondasi kesehatan masyarakat yang mapan sehingga menggunakan meja makan sebagai ruang kelas untuk pendidikan karakter, menekankan pada "bagaimana cara makan,".

Makan siang setiap hari dibuat di dapur sekolah masing masing berdasarkan pedoman diet yang dikeluarkan oleh Menteri Kesehatan dan dilakukan pengawasan oleh ahli gizi.

Dengan menyasar 99 persen siswa sekolah dasar dan 82 % siswa sekolah menengah pertama dan pelibatan siswa dalam proses penyajian dan membantu mengajarkan tanggung jawab dan rasa hormat kepada anak-anak, siswa bertanggung jawab untuk melayani dan membersihkan lingkungan sekitar.

Bagi orang Jepang, keberhasilan sejati program tetrsebut tidak hanya diukur dari berapa banyak siswa yang kenyang namun makan siang di sekolah menjadi momen yang bisa berjalan seiring dengan pendidikan karakter di mana anak-anak belajar asal-usul bahan pangan dan pentingnya pola makan seimbang yang sudah mendarah daging dalam budaya mereka selama puluhan tahun.

MBG dan Kesehatan Lingkungan

Selain masalah kualitas  makanan dan tata kelola program MBG yang terus menjadi pedebatan publik juga menyisakan persoalan lain, yakni food waste atau limbah makanan.

Sekitar seperempat lebih emisi gas rumah kaca dihasilkan dari sampah makanan.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved