Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Fleksibilitas Teknis Ibadah: Membaca Tarawih dalam Spirit 'Kelonggaran Syariat'? 

Muliadi Saleh membahas fleksibilitas teknis salat tarawih dalam spirit kemudahan syariat.

Tayang:
Istimewa
OPINI - Muliadi Saleh, salah satu penulis opini Tribun Timur. 

Menariknya, sebagian pola ringkas itu masih bertahan hingga kini. Bukan karena melemahkan ibadah, tetapi karena dianggap lebih realistis bagi banyak jamaah.

Waktu berjamaah menjadi lebih efisien, sementara ruang ibadah personal justru terbuka lebih luas tahajud, zikir, tilawah mandiri. Seolah syariat mengajarkan bahwa panjang pendeknya ritual tidak selalu identik dengan kedalaman spiritual. 

Dalam perspektif fikih, fleksibilitas teknis ibadah bukan penyimpangan, melainkan bagian dari kebijaksanaan agama.

Bahkan dalam hal wudhu yang menjadi syarat sah salat, mazhab Syafi’i sendiri memberi rincian jelas tentang hal-hal yang membatalkannya: keluarnya sesuatu dari qubul atau dubur, hilangnya akal seperti tidur nyenyak, bersentuhan kulit langsung dengan lawan jenis non-mahram, atau menyentuh kemaluan dengan telapak tangan.

Ketegasan aturan ini justru menegaskan bahwa aspek prinsip dijaga ketat, sementara teknis pelaksanaan ibadah sering diberi ruang adaptasi sesuai situasi. 

Di sinilah kita bisa membaca pesan yang lebih dalam: ibadah tidak dimaksudkan menjadi beban sosial atau kompetisi simbolik. Ia adalah jalan pulang yang harus tetap ramah bagi kemampuan manusia yang beragam.

Sebagian orang kuat berdiri lama dalam tarawih, sebagian lain hanya mampu sebentar. Sebagian khusyuk dalam bacaan panjang, sebagian justru menemukan kedalaman dalam bacaan singkat namun tartil. Semua memiliki pintu masing-masing menuju Allah. 

Barangkali hikmah terbesar dari fleksibilitas tarawih adalah kesadaran bahwa malam Ramadan sesungguhnya lebih luas dari sekadar ritual berjamaah.

Jika tarawih dipendekkan, mungkin itu agar ruang sunyi bersama Allah justru semakin panjang. Kadang yang diringankan adalah ritual kolektifnya, supaya percakapan personal dengan Tuhan menemukan kedalaman baru melalui tahajud, zikir lirih, atau tilawah yang tidak tergesa. 

Pada akhirnya, syariat selalu berjalan di antara dua kutub: disiplin dan kasih sayang. Tarawih 20 rakaat tetap mulia, 8 rakaat pun memiliki landasan.

Bacaan panjang terpuji, bacaan singkat pun sah selama khusyuk. Yang terpenting bukan berapa rakaat atau berapa halaman, tetapi seberapa jauh hati ikut bersujud. 

Sebab Ramadan, pada akhirnya, bukan tentang menghitung ibadah melainkan tentang membiarkan ibadah menghitung kita. Seberapa jernih niat, seberapa lapang jiwa, dan seberapa dekat kita kembali kepada-Nya.(*)

__________
Motto IMMIM: Bersatu Dalam Akidah, Toleransi Dalam Furu' dan Khilafiyah

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved