Opini
Jangan Asal Tutup Prodi, Green Job Butuh Lulusan Multidisiplin
Daripada menutup, prodi yang kurang relevan sebaiknya direvitalisasi melalui penguatan kurikulum dan pendekatan multidisiplin.
Oleh: Harry Yulianto
Dosen STIE YPUP Makassar
TRIBUN-TIMUR.COM - Kemdiktisaintek mewacanakan penutupan program studi yang dinilai kurang relevan dengan industri.
Pemerintah menegaskan penutupan adalah opsi terakhir setelah evaluasi mutu dan keberlanjutan akademik.
Wacana ini dikritik Komisi X DPR.
Perguruan tinggi tidak boleh menjadi pabrik tenaga kerja.
Fungsi kampus lebih luas: mengembangkan ilmu dasar, kebudayaan, dan daya kritis bangsa.
Daripada menutup, prodi yang kurang relevan sebaiknya direvitalisasi melalui penguatan kurikulum dan pendekatan multidisiplin.
Namun, di tengah wacana penutupan, pemerintah justru gencar mendorong green job.
Ironis: ingin lapangan kerja ramah lingkungan, tetapi menutup disiplin ilmu yang menopangnya.
Green Job: Bukan Sekadar Teknologi Hijau
ILO (2018) mendefinisikan green job sebagai pekerjaan layak yang membantu melestarikan lingkungan.
Cakupannya luas: teknisi panel surya, analis kebijakan iklim, peneliti hayati, hingga jurnalis lingkungan.
Jangan bayangkan green job hanya helm proyek dan kabel.
Perusahaan energi terbarukan butuh public relation officer yang paham lingkungan.
Lembaga konservasi butuh antropolog untuk negosiasi dengan masyarakat adat.
| Di Balik Narasi Kemajuan: Membaca Retakan dalam Praktik Pendidikan Kontemporer |
|
|---|
| Menagih Janji Ki Hadjar Dewantara |
|
|---|
| Moderasi Beragama: Menemukan Titik Tengah Melalui Lensa Hadis |
|
|---|
| PP TUNAS Menguatkan Literasi Digital? |
|
|---|
| Pendidikan Tiga Pilar Kearifan Lokal: Meneguhkan Sipakatau, Sipakainge, Sipakalebbi di Era Digital |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/STIE-YPUP-Makassar-03052026.jpg)